Wednesday, February 29, 2012

Sisi Gelap Ikhlasku

Kau bagian tergelap sisi hidupku yg menemani seakan ikhlas dan tiada batas
Pertama kau serukan cinta yg kau sendiri tak peduli akan ku terima ataukah ku menolaknya dan semua itu kau bilang karna kau cinta aku

Kedua kau berikan aku asa yg lama membeku di dadaku tentang keinginan masa silam yg katamu pun ikhlas tanpa pengharapan tuk dapatkan cintaku dan kau masih tak peduli akan cintamu kepadaku

Ketiga aku jenuh dgn basa basi tentang semua ini dan ku ingin kembalikan apa yang Tlah kau berikan tp kau menolaknya dan kau msh berkata aku memberikan semuanya bukan untuk membelimu tp karna tulus

Katamu tak peduli aku milik siapa dan tak akan peduli cintaku untuk siapa yg penting aku cinta kamu
Huh.....

Ketika ku bilang aku tak mencintaimu dan aku udah ada yg mencintai, kau protes....!
padahal dulu kau tak peduli aku milik siapa dan aku cinta siapa...
Sekian waktu berlalu kau menemukan penggantiku yg mencintaimu...kau beberkan semua tentang aku dan cintamu kepadaku...
Dan kau menuntut kembali materi yg kau berikan padaku yg katamu ikhlas memberikannya padaku...
Huh...semuanya Tlah ku kembalikan walaupun kata makianmu masih ku kenang...
dan walaupun aku tau kau tak bahagia dgn pilihanmu karna cuma pelarian aku doakan kau tetap bahagia seperti bahagiaku yg di sayangi orang yg ku sayangi

Menapaki Pada Getir Hati

Ketika mata terbuka …
sudut mata menapaki satu alur hidup
hari yang akan dilalui..
ketika hati berkuncup berbunga oleh mimpi
ternyata langit gelap masih bergelayut disini…
Ketika hati rapuh dan terjatuh …
tak ada mimpi tak ada harap yang dapat dipeluk..
tak ada sapa direngkuh..
tak ada lagi tawa yang dulu riuh dalam gelap …
kini senyap menetes air mata sendiri dalam dingin …
Kadang tak inginku berharap malam segera lepas …
karena hanya malam yang dapat membuat kuterjaga
tetap dalam mimpi ini …
tak inginku berharap angin ini
menghentikan angan gelapku saat ini
karena hanya malam yang dapat
memelukku dengan kehangatan
walau dingin merasuk dalam tulang …
Pedih ku menatap hati yang getir
tentang yang telah lalu …
menorehkan beratus, beribu, berjuta perih yang sulit terhapus …
pedih ku menapak pada hati yang merasa getir untuk melangkah
sedangkan aku tetap berada di bibir
jurang yang sangat dalam lagi kelam …
Ingin ku beranjak dari gelap …
ingin ku beranjak dari mimpi,
halusinasi yang tak kunjung pergi …
tapi letih masih tetap membayang ….

Friday, February 24, 2012

Coretan Kelam Al Hallaj


Aku adalah Dia yang kucinta dan
Dia yang kucinta adalah aku
Kami adalah dua jiwa yang bertempat dalam satu tubuh.
Jika engkau lihat aku, engkau lihat Dia,
dan jika engkau lihat Dia, engkau lihat aku

Maha suci zat yang sifat kemanusiaan-Nya,
membukakan rahasia cahaya ketuhanan-Nya yang gemilang.
Kemudian kelihatan baginya mahluk-Nya,
dengan nyata dalam bentuk manusia yang makan dan minum.

Jiwa-Mu disatukan dengan jiwaku,
sebagaimana anggur disatukan dengan air murni.
Jika sesuatu menyentuh Engkau, ia meyentuhku pula,
dan ketika itu dalam tiap hal Engkau adalah aku.
Aku adalah rahasia Yang Maha Benar,
dan bukanlah Yang Maha Benar itu aku
Aku hanya satu dari yang benar,
maka bedakanlah antara kami.

Sebelumnya tidak mendahului-Nya,
setelah tidak menyela-Nya,
daripada tidak bersaing dengan Dia dalam hal keterdahuluan, 
dari tidak sesuai dengan Dia,
ketidak menyatu dengan dia, 
Dia tidak mendiami Dia,
kala tidak menghentikan Dia,
jika tidak berunding dengan Dia,
atas tidak membayangi Dia,
dibawahtidak menyangga Dia,
sebaliknya tidak menghadapi-Nya
dengan tidak menekan Dia,
dibalik tidak mengikat Dia,
didepan tidak membatasi Dia,
terdahulu tidak memameri Dia,
dibelakang tidak membuat Dia luruh,
semua tidak menyatukan Dia,
ada tidak memunculkan Dia,
tidakada tidak membuat Dia lenyap,
penyembunyian tidak menyelubungi Dia,
 pra-eksistensi-Nya mendahului waktu,
adanya Dia mendahului yang belum ada,
kekalahan-Nya mendahului adanya batas.
Di dalam kemuliaan tiada aku,
atau Engkau atau kita,
Aku, Kita, Engkau dan Dia
seluruhnya menyatu.

Untuk Sebuah Hati Yang Merindukan Sayap

terjadi sebuah kelapukan dalam sebuah hati
entah apa yang terjadi....???
engkau timang mimpiku dalam gelapnya malam
engkau peluk mimpiku dalam gelisahnya rembulan...
siapa yang mampu menjawab tanyaku....
apa yang terjadi dengan diriku..
aku sangat frustasi... 
nanar...
aku gila sasar....
semua hati aku sinak menjadi sebuah kebisuan...
aku terlalu naif...Tuhan..
aku terlalu naif untuk mengerti semua akan hakekat cinta,..
terlalu banyak cinta yang ku jalani...
tapi tak satupun aku singgah di dalamnya
Tuhan....
sekian lama hati ini merindukan sayap
hati yang slalu berharap...
semoga sayap itu mampu membawanya terbang ..
menuju cinta Mu...
Tuhan ...
datangkan dia disetiap mimpi malamku
datangkan dia disetiap doaku...

Kidung Kasih Sang Musafir

Oh, Sang Khalik Maha Pencinta,
Betapa sanubariku mengimpikan simphoni cinta kehadrat-Mu. 
Betapa aku rasakan ada satu ikatan
dan keutuhan di lubuk nuraniku.
Betapa kerinduanku makin menjadi dan terus marak.
Tapi aku ingin masih mau berpetualang mencari titik pusat cinta
yang dapat mengukir rona-rona kebahagiaan 
sempurna dalam hati hamba-Mu ini.
Kali ini kutahtakan syurga-Mu pada puncak singgasana angan-angan jiwaku.
Kiranya gelora sukmaku terpaut pada artinya hidup ini.
Oh, Sang Agung Maha Pencinta,
Kutahtakan peribadi-Mu pada puncak singgahsana pemikiranku. 
Kiranya setitis embun berkat dicurahkan padaku
dalam setiap detik-detik nadiku selamanya.
Kutahtakan peribadian Rasul-Mu pada puncak singgasana hatiku.
Dan memang itu satu pegangan hatiku yang pasti abadi
Keesaan-Mu yang paling agung.
Oh Sang Maha Pencinta,
Ajari aku bahasa cinta agar aku dapat menebarkan dan mewartakan cinta.
Ajari aku bahasa cinta agar cinta-Mu melekat pada setiap insan yang aku temui.
Ajari aku bahasa cinta agar aku lebih suka mencintai daripada dicintai.
Ajari aku bahasa cinta agar aku tidak tersalah memilih cinta.

Perkawinan Maut

Berlangsungnya perkawinanmu dengan maut..
Lantaran..sakit dan nazak..
Tamu bertandang menghadiahkan sesak tangis..
Pengantin dimandikan..
Dipakaikan baju cantik putih..
Wangian gaharu dan cendana..
Keranda jadi pelaminan..
Pengantin bersanding sendirian..
Di arak keliling kampung..
Berkompangkan azan dan kalimat suci..
Akad nikahnya bacaan talkin..
Berwalikan liang lahat..
Menjadi saksi batu nisan..
Siraman air mawar..
Keluarga terdekat menabur bunga..
Tiba masa pengantin.. 
Menunggu sendirian..

Tuesday, February 21, 2012

Sepi Tak Bertepi

Lagi hari ini
Kusapa mentari
Tetesan embun pagi
Menyimpan misteri
Misterimu
Di lembah asmara
Kuturun mencari
Kemanakah dirimu
Bayang yang tak pasti

Jangan pernah engkau pergi
Ku ingin kau selalu di sini
Kemana saja imajinasi
Tetaplah di sini
Ku tenggak gelisah
Sibak yang terpendam
Tembusi luas jiwa
Resah yang bertanya

Sunday, February 19, 2012

Nyanyian Sunyi

Sendiri termenung dalam kesenyapan senja
menatap kosong lurus ke depan…
Dalam kesendirian sepi mendekap erat
berteman malam dan seutas penyesalan
yang tak segera pergi…
Dia sendiri terpekur tegak dalam kepatuhan dan kepenatan
memendam harap dan bara yang sama-sama menyala…
Tak tahu apa yang dinanti
kecuali nyanyi sunyi yang kan datang
tanpa memberi sehelai kabar dari langit…
tanpa memberi tanda adanya petir yang segera menyambar….
sepi ini terus menemaninya
sendiri dengan tatapan tegak kedepan
seperti masih ada mimpi disana …
Nyanyi sunyi telah terlintas dikepalanya
walau masih menjadi tanya setelah didera
berbagai macam penyesalan yang terjadi… 
nyanyi sunyi makin terasa
ketika hidup makin beku
dan hati terus tenggelam dalam angan
yang telah berlalu…
Seharusnya dia tak sendiri…
seharusnya sang Dinda duduk mendampingi
 menanti akan datangnya mimpi dan nyanyi sunyi…
tapi dia sendiri lagi…
sendiri tanpa harap yang pasti
untuk bersama mengarungi lelah penatnya
menjalani hidup diiringi nyanyi sunyi…

Menyelami Sang Malam

Kularikan khayalku
menemui harmoni suara yang
menjajah pekatnya malam
tapi kau hanyalah suara tanpa nada..
Kusinggahi nafasku
pada semilir halus angin yang berhembus
tapi kau hanyalah setitik fakta
dari Kebesaran-Nya..
Terus kutelusuri Sepertigamu dengan berbekal tanya
akankah?
mungkinkah?
sanggupkah..?
Kunanti jawab penuh harap
Sambil menikmati pekatmu
beriring doa terdalamku
Aku bersama Sang Malam
Di Sepertiga Malam

Nyanyian Gaib Sang Gagak Kematian

Kelam malam menyelimuti suara suara kepahitan
Akan gelapnya sisi tergelap satu insan
Taburan kembang terbawa angin
Yang di cumbui asap kemenyan
Terbang mengitari wilayah persembahan
Sekelumit mantra terbaca janjikan keabadian
Setan dan kemewahan dunia 
Tanpa takut Tuhan kan murka
Asap mengepul...
tanda kehadiran sang penguasa kegelapan muncul
Tawarkan persetujuan
Darah perawan kerabat terdekat
Sebagai ganti tumbal harta dunia dan kesenangan fana
Noktah darah tanda persetujuan telah di setujui
Tinggal tunggu waktu purnama saat darah perawan jadi sesaji
Menangis sang insan meratapi janji pada sang setan
Darah anaknya jadi korban demi harta yg haram
Sesal abadi wahai engkau pemuja setan...

Hausnya Kalimat Syahdu

Dalam padang yang tandus
Diantara hawa panas yang menyengat
Meredam, menerjang ke dalam jiwa-jiwa
Yang terjerumus lubang-lubang kepalsuan
Meramu kata-kata klise, hiperbolis
Melintang di jala ajaranNya
Merubah hitam menjadi putih
Putih menjadi tak bermakna
Sedang tiang kebenaran tak lagi diindahkan
Buih-buih kejujuran tak lagi diutamakan
Dimana kalimat takwa yang dulu pernah
Menghias ikatan para musafir dunia
Dimana kuatnya akhlakul karimah yang dulu biasa
diloantarkan sang pemilik harta
Masihkah ada...?
Kini yang terlihat hanya tangisan sang bocah
Yang merangkak peluh menanti tetesan kasih
Sedang para penghasut hati menari-nari
Membelenggu jiwa bersih hilang dari pandangan
Dan dendam yang pernah berkesumat
Terus bergelimpangan memakan korban
Sudah menangkah setan-setan perayu jiwa???
Hingga hatimu, hati kalian tak bergetar luruh
Mendengar asmaNya mengalun syahdu
Sedang imanmu sudah setipis kain pembalut tubuh
Yang kan menutupi sisa ragamu
yang telah bercampur dosa pelebur iman....

Tulus

Aku mengenalnya lewat senyuman
Yang perlahan menyelinap masuk
Mengintip derunya hati
Mengetuk lembut celah mimpi yang lama terdiam
Aku mencoba mengeja
kesungguhannya dalam bayangan
Yang terangkai di bentangan jarak
Mengelus halus butiran harapan
Membentuk mimpi yang terukir megah di sanubari
Aku mengharapnya dalam untaian doa
Dalam lenanya cinta yang satu persatu singgah
Menjaga satu hati untuk cinta di sana
Mencoba tegarkan jiwa tanpa belai
yang harusnya dirasa
Aku yang di sini masih sendiri
Mencoba satukan mimpiku dalam nyata
Jadikan perbedaan sejalan
Jadikan harapan bersama dalam ridhoNya
Untuknya ku coba menanti
Untuknya ku pastikan cinta ini atas tulus Illahi....

Thursday, February 16, 2012

Tangisan Insan Pendosa


Jasad menjauh dari gersangnya dosa
Yang slalu indah berlari dalam nurani
Bisikan-bisikan kegelapan
Yang slalu bersarang dipendengaran langkah ini
Lantunan huruf-huruf keabadian
Yang tersambung merdu dalam keheningan
Meluluhkan semua sisi dimensi jiwaku
Menepi dalam sujud ampunan
Hingga seluruh airmata beraroma busuk
Tak tergores di berkas malaikatMu
Langkah-langkah tak berdosa tlah terhapus
Abadi alamMu menuju sisi surgaMu

Radiasi Cinta


Gelombang nada tiada menemani
Saat intuisi hanyalah ekspektasi
Saat kurasakan getaran cinta
Dengan kecepatan melebihi cahaya
Potensial tangga tak berdaya meluruhkannya
Mungkin ini hanya imajinasi hampa
Dunia kita ialah relativistik
Tampuk tahta bukan mekanika klasik
Tapi cintaku ini tetap deterministik
Dengan kesucian tanpa hukum probabilistik
Walau cinta ini tak bersambut
Walau luka ini sisakan takut
Namun nuraniku senantiasa terpaut
Layaknya katrol pesawat Atwood
Cinta ini takkan pernah bertepi
Seperti osilator harmonik tanpa terhenti
Semua rapi tersusun dalam hati
Bagai kristal tak cacat kisi
Akankah cinta ini kembali?
Menatap bayang indah rajutan mimpi
Ataukah khayal tetap berdiri?
Merusak angan dengan radiasi tinggi

Mata Sang Dewa Durjana

 
(based the song of Nile - The Eye Of Ra)

Dalam ketololan ku
aku telah mengambil format
Tentang Seorang laki-laki mematikan
Dan masuk untuk tinggal di antara ras manusia
Yang merupakan turunan dari airmataku

Tetapi…
mereka sudah berbalik melawan ku dan keturunan ku
Mereka merobohkan kuil dan mengutuk nama ku

Tidak…
Aku kembali ke kota besar matahari
Disana tahta laksana keluar dari mataku

mengerikan adalah sakit ku
kejutan adalah tangis dan teriakan ku
seram adalah amukan tinggi ku

Semua nafsu sengitku
Menyebabkan koyak mataku

Untuk menjelma…
Berwujud sebagai singa betina menakutkan
Dengan gigi dan kuku binatang
Yang nyeri untuk memecah daging
Tidak mengindahkan darah
Yang keluar dari pipiku

Nesert
yang membakar nyala api
Kemudian raungan Sekhmet
yang mengerikan itu
“Jangan melarikan diri dariku
wahai ras manusia!!!”

Ketakutan yang dibiarkan berkembang dalam hatimu
Karena aku adalah balas dendam dan kematian berdarah

Dengan kegusaran yang mengerikan
Haruskah aku sekarang maju pergi ke dua negeri
Untuk membunuh angkatan perang yang dikumpulkan
bukankah seseorang akan hidup
jika aku telah menjelma?

Ketakutan yang dibiarkan berkembang dalam hatimu
Karena aku adalah balas dendam dan kematian berdarah
Seperti aku memecah seluruh daging dari tulang mereka

Aku akan minum darah mu
Wahai ras manusia
Karena kegembiraan itu
Yang menyenangkanku 

Wednesday, February 15, 2012

Tulislah Namaku Dengan Debu

 
Bakarlah aku dalam bilik jantungmu
hingga yang tersisa hanya abu
Lalu dengan abu itu
tulislah namaku
seperti waktu kau punguti jam-jam
yang meragu
Tulislah namaku dengan abu
Sebab kenangan hanyalah catatan alam
yang berdebu
Meski hidup cuma bayangan semu
Tataplah hari-hari dengan senyummu
Tulislah namaku dengan abu
Untuk sekedar memberi
kemungkinan sang waktu
Melakukan tawar menawar dengan Tuhan
Karena perjalanan, betapapun berat, harus diteruskan
Tuliskan namaku dengan abu
Berdoalah agar dari kematianku
datang kelahiran baru
Agar aku tak kehilangan kepercayaan
kepada kesejatian
Tulislah namaku dengan abu
Karena rasa berdaya
tak boleh mati begitu saja
kesabaran menjadi samudra
daya hidup menjadi cakrawala
Tulislah namaku dengan abu
Sebab kita tak pernah berencana bertemu
Tulislah namaku dengan abu
Biarlah angin membawa pergi
kemana ia mau

Kutuklah Aku Untuk Mencintai Mu


Kutuklah aku untuk mencintaiMu
karena mataku telah buta oleh pesona dunia
karena telingaku telah terpikat oleh merdu sarwa
karena tanganku telah kotor oleh noda
karena mulutku telah berlumur pura-pura
karena aku selalu kalah oleh nafsu
yang bertahta
Kutuklah aku untuk mencintaiMu
Karena aku telah terperangkap
asmara nan maya
Karena jauh di lubuk kalbuku
Masih kurindu wajahMu
Walau dengan perih hati 
dan rasa amat tak berdaya
Kutuklah aku untuk mencintaiMu
sebab aku tak mampu lepas dari berhala diri
sebab aku tak sanggup
menghindar dari nafsu duniawi
sebab aku terkurung dalam labirin kepalsuan
nan memabukkan
sebab aku terperangkap dalam jerat-jerat keakuan
Kutuklah aku untuk mencintaiMu
Jauhkan segala yang akan menjauhkan aku dariMu
Singkirkan segala yang menyilaukan aku
dari memandangMu
halau segala yang menambatkan hatiku tidak padaMu
kutuklah aku menjadi pecinta ejatiMu

My Obsession

aku ingin menulis
kebajikanku di atas air
biar riak keikhlasan menghampirinya
dan kian menghilang
aku ingin memahat kebaikanku
di singgasana awan
hingga hembusan keikhlasan
menerbangkannya jauh dan semakin kecil

aku ingin melukis amalku
di permukaan pasir
sampai hujan keikhlasan menghapusnya 
dan berlalu pergi

aku ingin mendudukkan kebanggaanku
di bawah batu nisan
semoga tanah keihklasan mengurainya
menjadi tiada dan menjadi tak berarti

aku ingin menegakkan
keikhlasanku
di petala langit
agar kalian dapat melihatnya
sedang aku tak menyadarinya
sebab aku berpalingke bawah
dan tertunduk malu

Monday, February 13, 2012

Syahdu Masa Dulu

Demi masa lalu yg telah membeku dan sekarang tercairkan oleh waktu
Putih abu-abu saksi perjalanan menapaki jejak rindu dan cemburu
Adakah kau merasakan itu?
atau cuma aku yg telah buta mataku karna pesonamu!
Aku bahagia mengenalmu sekalipun aku angin lalu buatmu...
Taukah kamu waktu itu hanya pagi waktu yg ku tunggu...
senyumu beserta putih abu abu jadikan aku semangat cari ilmu
Sesaknya maju jaya menjadikan aku lebih bisa
menikmati indahnya wajahmu yg perlahan mengisi lamunan kala itu
''Kasih Tak Sampai''
ingatkah petikan gitar yg perlahan kau dendangkan?
Aku tak mengerti...kau mampu lakukan padaku
Aku yg menganggap kau pelangi ternyata menjadi gerhana
 Membutakan mataku dan tak bisa membedakan dia kakakmu atau pacarmu
Mati..
sakit..
lemah...
stres ketika ku dengar persandinganmu yg tak bisa ku terima di akal sehatku
Kini semua telah berlalu dan kita menapaki jejak yang berlaku
Terima kasih atas kisah yg berlalu yg menjadikan aku tau nilai aku dihatimu
Semoga engkau bahagia dengan dia yg kau pilih...
amin

Sunday, February 12, 2012

Titah Sang Sunan

Puncak ilmu yang sempurna
Seperti api berkobar
Hanya bara dan nyalanya
Hanya kilatan cahaya
Hanya asapnya kelihatan
Ketauilah wujud sebelum api menyala
Dan sesudah api padam
Karena serba diliputi rahasia
Adakah kata-kata yang bias menyebutkan?
Jangan tinggikan diri melampaui ukuran
Berlindunglah semata kepada-Nya
Ketahui, rumah sebenarnya jasad ialah ruh
Jangan bertanya
Jangan memuja nabi dan wali-wali
Jangan mengaku Tuhan
Jangan mengira tidak ada padahal
ada
Sebaiknya diam
Jangan sampai digoncang
Oleh kebingungan
Pencapaian sempurna
Bagaikan orang yang sedang tidur
Dengan seorang perempuan, kala bercinta
Mereka karam dalam asyik, terlena
Hanyut dalam berahi
Anakku, terimalah
Dan pahami dengan baik
Ilmu ini memang sukar dicerna

Surat Dari Teman




Sahabat…
Jika engkau kelak bertemu dengan derita
Tanyakan padanya
Akan arti sebuah bahagia
Sahabat…
Jika kelak engkau bertemu dengan air mata
Tanyakan padanya
Akan arti sebuah mulut yang tertawa
Sahabat…
Jika kelak engkau bertemu dengan kehimpitan
Tanyakan padanya
Akan arti sebuah kelapangan
Sahabat…
Jika kelak engkau bertemu dengan kekurangan
Tanyakan padanya
Akan arti sebuah kesempurnaan
Sahabat…
Jika kelak engkau bertemu dengan kesesatan
Tanyakan padanya
Akan arti sebuah keimanan
Sahabat…
Jika kelak engkau bertemu
dengan kebencian
Tanyakan padanya
Akan arti sebuah ketulusan
Sahabat…
Jika kelak engkau bertemu dengan kuburan
Tanyakan padanya
Akan arti sebuah istana
Sahabat…
Jika kelak engkau bertemu dengan gelap
Tanyakan padanya
Akan arti sebuah cahaya
Sahabat…
Jika kelak engkau dijemput kematian
Tanyakan padanya
Tentang arti sebuah kehidupan
Sahabat…
Jika kelak engkau bertemu Tuhan
Tanyakan pada-Nya
Akan arti seorang insan
Jangan kau tanyakan
Akan arti derita pada bahagia
Jangan kau tanyakan
Akan arti kecewa pada suka
Dan jangan kau tanyakan
Akan arti ajal pada kehidupan
Karena kau pasti tak dapatkan jawaban
Seorang pengembara tahu betul akan arti menetap
Dan seorang penetap
Tidak tahu pasti akan arti sebuah pengembaraan
Izrail yang mencabut segala kenikmatan
Isrofil yang meniup genderang kematian
Pencipta yang menutup layar kehidupan
Dan tubuh kecil yang tinggal jadi persaksian
Sahabat...
Aku hanya bisa menatap diam
Hanyut dalam kebisuan
Berjalan tertatih dalam kebutaan
Di antara mayat-mayat berserakan
Menetes air mata di rerumputan
Mengenang masa perhitungan

Dalam Doa


Ragaku terus berotasi disini
tapi serasionalnya aku ingin pergi
pergi dan takkan pernah ku tengok
lagi
karena perih terlanjur mensubstitusi
di tempat ini hitam mendominasi
di tempat ini kelam mengeliminasi
bagai relasi tanpa fungsi
bagai subgrup tak berpenghuni
Tuhan,
sampai kapan aku dapat bertahan
bertahan dari bilangan hinaan
hingga merasa vektor hidup ini
nyaman
Tuhan,
bantu elemen temukan himpunan
himpunan yang dapat menghargai
hingga elemen dapat tersenyum
kembali
wahai penguasa hati
definisikan aku keikhlasan
agar aku tahu cara bersabar
mengharap setetes linier kebahagian
atau teoremakan aku kebencian
agar tak kenal fungsi memaafkan
sampai titik stasioner tinggi
menjulang
sampai tak satupun mereka kan ku
kenang

Menembus Batas



Ku coba bangun titian
Tuk lewati laju reaksi kesedihan
Tembus dan biaskan kesepian
Belokkan ke arah kebahagiaan

Tahap demi tahap tahap reaksi ku
lalui
Capai asa yang rasanya terlalu tinggi
Hingga ku sampai pada akhir reaksi

Meski lambat jadi penentu yang
pasti
Ku tahu tumbukan cobaan selalu
hadir
Halangi niatku yang tak sesuai
dengan takdir

Namun tumbukan efektif pasti kan
mampir
Menyapa dan memunculkan reaksi
akhir

Kini... suhu hidupku meningkat
pesat
Hadirkan energi kinetik pada molekul
batin yang rapat

Hingga ku mampu bersentuhan tanpa sesat
Gapai akhir bahagia yang bukan sesaat

Anganku... kini kan terwujud
Tertembus oleh tekad yang tulus
Dengan bantuan katalis yang mulus
Tanpa berharap balasan fulus

Aku Dan Kamu

Jika nanti ada waktu
Akan kuajak kau menelusuri sirkum
mediterania
Berenang dalam kilauan emas hitam
Tenggelam dalam fraksi-fraksi rantai
karbon
Akan kuajak kau naik foton-foton
cahaya
Memetik partikel-partikel mikron dan
merangkainya
Menghirup gelombang-gelombang
tuk pancarkan energinya
Mungkin kuajak kau menuju lorong-
lorong mimpi Freud
Menari dalam kerucut waktu
Heisenberg
Berdansa dalam lipatan vortex
Descartes
Jika nanti ada waktu
Aku ingin mengajakmu kemana saja
Karena alam semesta hanya milik
kita
Aku, Kamu, dan Sang Pencipta...

Bidadari


Pertama kali retina mataku beradu
dengan pandanganmu
Terkirim cepat pesan kagum lewat
syaraf otak kananku..
Dalam sekejap detak jantungku
meningkat menjadi 105 kali per detik
Keringat dingin mengucur deras
dari pori kulitku
Hormon-hormon asmara perlahan
mengalir
Lalu dengan ganas menelusuri hati
dan limpha
Paru-paru memompa hawa cinta
lebih keras
Dan lalu berlabuh di sumsum-
sumsum tulangku
Adakah juga reaksi hormonal pada
dirimu..?
Adakah saluran koroner jantungmu
cukup luas menghantar pesan
cintaku..?
Adakah otot bisep dan trisepmu
mampu menggerakan dirimu
mendekatiku …?
Ah….
Aku hanya bisa me-resusitasi
diriku …
Menunggu dalam kadar hasrat
koleserol normal …
Menanti dalam tataran asam urat
terjaga

Untuk Bidadari Yang Lebih Cantik Dari Kuntilanak


Tahukah engkau
Ku selalu berdiri memandang langit
median malam

Tenang, tentram, damai
Mengisi kehampaan ruang batinku
Berelasi dengan himpunan jiwaku

Tapi,
Sigma parasit berjalan siklik
merusak pikiranku
Memudarkan fungsi tujuanku

Oh tidaakk …
Apakah salah seseorang menjadi
sesosok sang pemimpi
Yang mengisi himpunan hidupnya
dengan berjuta-juta titik khayal

Engkau tahu,
Bangun nyataku taklah seindah
bangun khayalmu
Limit turunanku bukan seperti
dugaanmu

Tapi, hanya ini
Hanya ini yang sanggup kulukiskan
untukmu
di atas bidang dimensi kehidupan
Lewat barisan kalimat yang tak ada
artinya ini

Maaf jika selama ini ku telah
mengganggumu
Ku akan menjauh dan akan terus
menjauh
sejauh titik tak berhingga

Walau sulit, tp ku bahagia
Melihat engkau bersama sahabat –
sahabatmu
mengarsiri bidangmu dengan
penuh keceriaan

Tahukah engkau
Semua itu untukmu...
(disadur dr novel barisan jihad Q5)

Dekat Menatap Yang Menjauh

Di keremangan senja
tawarkan mendung
mega kelabu yg membangkitkan
gairah rindu
Mungkin dan jika memungkinkan
waktu tak berputar
aku pasti hentikan
karna kau yg diangan
hadir di sisi tanpa keterikatan
jarak waktu dan dimensi
Menatap ayumu di gerimis 
Lebih indah dari susunan tatasurya di galaksi...
Tapi...
sedekatmu aku memandang dalam kedekatan
aku tak mampu menangkap arti kerinduan
di sisi hati yang katanya boleh ku isi
Huh...apa yg salah oleh cinta?
ku coba renungi tapi tak kutemukan titik pusat alasan
karna cinta adalah alasan tepat untuk cinta

Karena Cinta


Kerana cinta duri menjadi mawar
kerana cinta cuka menjelma anggur segar
Kerana cinta keuntungan menjadi mahkota penawar
Kerana cinta kemalangan menjelma keberuntungan
Kerana cinta rumah penjara tampak bagaikan kedai mawar
Kerana cinta tompokan debu kelihatan seperti taman
Kerana cinta api yangberkobar-kobar jadi cahaya
yangmenyenangkan
Kerana cinta syaitan berubah menjadi bidadari
Kerana cinta batu yang keras
menjadi lembut bagaikan mentega
Kerana cinta duka menjadi riang gembira
Kerana cinta hantu berubah menjadi malaikat
Kerana cinta singa tak menakutkan seperti tikus
Kerana cinta sakit jadi sihat
Kerana cinta amarah berubah menjadi keramah-ramahan

Katakanlah Tuhan


Katakanlah pada aku Tuhan…
tentang gelombang yang terasa menyesakan dada
Atas aroma yang tak ingin kutebak dengan salah
Katakanlah pada aku Tuhan ….
dengan jelas …
bukan bersitan yang selalu mengoyahkan jiwa
Katakanlah pada aku Tuhan …
Jangan kau beri kebimbangan semata
Aku tak ingin kelam hinggap dalam renung jiwaku…
Aku tak ingin luka kehidupan yang ada semakin membunuhku
Katakanlah pada aku Tuhan …
atas tusukan yang mencabik sukmaku
Katakanlah pada aku Tuhan…
katakanlah ………………………
(Ronny Kelam)

Wednesday, February 08, 2012

Bidadari Malam


Merepih kesunyian dalam sepi malam
Mencari dalam kesendirian
Ketika malam tak lagi tentangmu
Dan pijar lentera meredup di tepian
Sungai hati bermuara di cakrawala jiwa
Buih-buih ombak bawa dirimu menjauh
Jauh, akankah kembali?
Datang, bisakah mengisi?
Jiwa-jiwa yang kosong
Ditingkahi hati yang hampa
Bidadari Malam
Renjana menghantar raga
Di ujung senja menebar asa
Mendekaplah
Rasakan setiap helai nafas
Nafas yang ada karnamu
Nafas yang ada hanya untukmu
Sepotong rendezvous kembali
Terlintas bayang senyum
Terdengar kepak sayap
Sekeping jiwa ku susun dalam hati
Membentuk wajah sang pencipta mimpi
Alunan swara yang datang dari langit
Mencari damai di swargaloka
Wahai titisan malaikat surga
Yang menemani tidur panjang
Yang mengelus mimpi dengan keindahan
Menjelmalah!
Mengejawantah dalam indah rupa Bidadari
Titipkan damai di atas bintang
Membelai tubuhku dengan tangan-tangan cinta
Selimuti raga dengan lembaran kehidupan
Tersenyum dalam dinginnya malam
Buai Sang Pujangga dan antarkan ia tidur tenang
Beri mimpi terindah tentang dirimu
Selamat tidur Bidadari
Pejamkan mata dan kita bersua di bunga tidur
Bidadari, ketika pagi tiba
Ketika embun menetes di ujung daun
Ketika matari muncul di ufuk timur
dan cahaya membias
Ku pinta, jangan pergi
Tetap disini, dipelukanku.

Fakir


aku yg bernafas bukan dgn nafasku..
berjalan bukan dgn kakiku...
melihat bukan dgn mataku..
memegang bukan dgn tanganku...
mendengar bukan dgn telingaku....
tetapi berdosa adalah dgn dosaku..
Dia orang tuaku tp bukan miliku
dia istriku tetapi bukan miliku
dia anakku tp bukan milikku
dia adeku tapi bukan milikku
dia orang orang yg menyayangiku tapi bukan milikku
dia hartaku dari hasil bekerja tapi bukan milikku
dia kendaraanku tapi bukan milikku
dia kekasihku tapi bukan milikku
aku tau..
aku tau tentang smua itu dan itupun bukan aku yg tau..
fikiranku yg tau,itupun fikiranku bukan milikku...
Masihkah aku harus menangis ?
menangisi apa apa yg bukan miliku
dan menangisi apa yg sebenarnya tiada
aku tiada dan tiada punya

Misteri Mimpi

Dimanakah menghilang
Diriku sendiri
Hanyut dalam bayangan
Sebuah misteri
Harum tiada wajah
Mengelilingi aku
Dalam suasana
Yang terharu
Lukisan impianku
Gambaran dimana
Cuaca yang begini
Apakah mahunya
Aku adalah aku
Nyanyi lagu yang rindu
Lemah langkahku
mengejarmu
Bila pun engkau
menjelma
Disini aku berdiri
Ku menanti
Walau hilang ceritamu
Di hati tetap abadi
Sentuhanmu

Renungku


semerbak cahaya di gulita
hitamku telah temaram
bersama pudarnya malam
berganti surya
terbentang di timur mimpi
Disisi hati terliliti rindu
telah beku dan tak mampu
mencari sudut kasih yg membelenggu
di dua dimensi waktu
antara aku dan diriku yg lalu
Merenungi tak mampu
menjadikankan tak kelabu hari di hati
Dalam buaian syahdu
dan damainya malam
tenggelamku di isak penuh tangis beku
yg tak mampu dan slalu menyesakkan
di sisa hati dan hati yg tersisih
Sungguh bahagiamu dlm perjalanan
yg menjadikan indah duniamu
adalah bahagiaku dlm renungku
Amin...

Friday, February 03, 2012

Berbincang Dengan Sepi



Disini ku diam sendiri

Berbincang dengan sepi

Karena memang hanya ia sahabat hati

Yang mampu menghibur diri


Malam mulai larut.....

Dan jelaga hitam kembali menyambut

Dingin nya pekat berteman gelap kabut.....

Melingkupi tubuh ku layaknya selimut


Disini ku diam sendiri

Berbincang dengan sepi

Karena memang hanya ia pemuas hati

Yang mampu tenangkan diri


Sayup-sayup terdengar detak-detik waktu berkata

Ijinkan ingatanku kembali ke saat-saat lalu tentang kita

Yang mungkin hanya singgah tak begitu lama

Namun mampu biarkan jiwa ku menggelora

Dan mungkin sedikit buatku jadi gila.....


Disini ku diam sendiri

Berbincang dengan sepi

Karena memang hanya ia belahan hati

Yang mampu bahagiakan diri


Betapa nyaman setiap menit berlalu antara aku dan sepi

Seakan tak ingin kupergi jauh dari sini

Tinggalkan aku dan dia tanpa pernah kembali

Kemudian lupakan setiap kenangan yang telah terjadi


Disini ku diam sendiri

Berbincang dengan sepi

Maukah kau menjadi sahabat hati,

Yang mampu dampingi sampai nanti,

Hingga jiwa ini telah mati?

Sisi Hati



(by Asshard and Inti Lebur Saketi) 

Telah ku temui satu sisi indah duniawi
membawa sunyi hati terbang jauhi sepi
Lalu ku turutkan cahaya di hadapan berliku
Keyakinanku ini mengiringi langkahku
Menuruti suara hatimu
Terasa terdengar nyanyian namamu di hati
Memanggil satu sisi jiwaku yg sepi
Mengajak melantuni jejak yg hakiki
Menembus dunia nyata dan mimpi
Tak dapat ku bohongi namamu di hati
Memberi jingga menghiasi kelam imajinasi
Ku hanya berdoa kisah yang terkasih
Menjadi abadi seperti salsabila di taman surga
Akankah kau merasa tentang semua rasa
Senandung rindu di penghujung pilu
Semoga kau mengerti arti gelisah diri
Yang mendambamu menjadi bagian di hati