Saturday, March 31, 2012

Bunuh Aku Dengan Cintamu

Bunuhlah aku dengan cintamu
agar aku tak mampu lagi
menghianati kasih sayangmu
yang tulus dari dalam hati
maafkan aku...
yang tak pernah bisa
memberi kebahagiaan padamu
tapi aku berjanji
suatu saat nanti...
kukan hadirkan seribu bahagia
yang khusus kuberikan padamu
yang telah tulus mencintaiku
dan telah mewarnai hidupku

Emosi Pendemo

Kami berdiri disini
Meenentang kebijakan ini
Kami tidak akan berhenti
Sampai ambisimu kau akhiri

Kami bukannya tak mau
Tapi kami belum mampu
Makan saji kami rancu
apalagi harus menuruti kerakusanmu

Kami tak mau mati
Menanti janji-janji
Bualanmu kini tak berguna lagi
Yang kami minta sesuatu yang pasti
dan tidak membuat kami mati

Ilham Di Pagi Buta

Tetes embun pagi
Hadir lagi basahi bumi
Membangunkanmu yang terlelap dari mimpi
Mengajakmu untuk berlari lagi
Mengejar semua impian diri

Semangatmu yang berapi-api
Menggugah hati ini
untuk bangkit lagi
Setelah lama terpuruk dalam sepi

Kauteguhkan hati ini
Tak perduli jurang tajam didepan menanti
kan kaulalui dengan riang hati

Khayalan Dalam Diam

Terpekur dalam diam
Tenggelam dalam kelam
Melayang menuju alam di awang
Kuraih sebuah bayang
Indah penuh dengan khayalan
Kan ku wujudkan dalam kenyataan
Kenyataan yang bagiku sendiri 
Hanya sebuah dunia fana
Yang tak mungkin bisa mewujudkan
segala apa yang ada dibenak hamba

Thursday, March 29, 2012

Roman Cinta Penghianat Dan Pendosa



Ketika mereka berada diujung waktu.
Ketika malam tak lagi terasa damai.
Dua sejoli sedang merajut rangkaian bunga kematian nan wangi.
Bunga yg mereka ambil dr tanah pekuburan bersama.
Yg dirajut dgn jarum" tajam pembawa kepedihan.
Tak terhitung lg berapa tetes darah yg dikorbankan Sang Pendosa untuk ini.
Tak terhitung pula berapa kecupan hangat di jari Sang Pendosa yg diberikan Sang Pengkhianat.
Ket...ika semburat mega menguasai ufuk timur.
Mereka bersama" meletakkan rajutan bunga kematian diatas sebuah makam.
Makam yg di dalamnya terdapat dua jasad terbujur kaku.
Dua jasad yg sampai detik ini saling mencintai.
Cinta Sang Pengkhianat dan Sang Pendosa..

Matiku



mata batin ku mati ..
terkikis ironi kehidupan ..

kusambut kematian yg menjemputku ..
dalam kegelapan nyata yg abadi ..
kenyataan dalam pedih dunia ..
yg mengiris batin ..

... ku coba genggam semua insan ..
berharap tanda kehidupan ..
namun kematian terlalu cepat untuk ku sadari ..
bahwa ruh ku melayang ..

ku coba terbangun ..
dari siksa batin ini ..
namun seraya ku terbelenggu ..
oleh pahit nya alam ini ..

ku coba terbangun ..
namun ku terlambat untuk menyadari ..
bahwa insan ini telah terenggut ..

sesal batin menyiksa ku ..
sesal raga tak akan mampu ..
tuk kembali seperti sedia kala ..

kini ku hanya bisa terpaku ..
melihat semua insan berjalan ..
melewatiku, tanpa memandangku ..

ku hanya se-onggok daging tak berguna ..
yang tak berdaya ..
terbaring dalam pembaringan ..

Curahan Hati Untuk Penguasa Negri

Senja terbentang luas di ujung derita
Berserakan dusta para penjanji dunia
Terseret dalam liang nista
terkubur membusuk bernisan hina
Bermakhkota emas fana

Jerih para terdahulu
Seakan hanya sambi lalu
Lupakan segala petuha yang dulu
Memerintah laksana dunia ini milikmu

Tak kau hiraukan lagi
Derita rakyat yang tak mampu lagi
Menanggung beban hidup yang terlalu tinggi
Bagi kami yang hhanya mengais rejeki
dari sampah yang bagimu tak berarti

Monday, March 26, 2012

Sisi Ego Bidadari Berkerudung

Tutur indah pesona diri
buaian cumbuan hanya hayalan
 kerinduan terpadu dalam lamunan
Guratan wajah tergambar di sisi hati
benihkan biji cinta tiada terungkap
Kau indahkan malamku
antara putaran rindu
begitu berat ku ungkap kejujuran hatiku
Biarkan aku kini merasakan cinta
terpendam di hati dan tak nyata

(some word copied by lyric Moses bandwidth - Laila Majnun)

Ruh Dalam Sepi

Sendiri di dalam sepi
terperosok mimpi 
tak bertepi 
seakan senja datang lebih pagi
Jiwa ini mati 
tiada rasa karsa keinginan hati
gelap hening tanpa penghuni
Sendiri di dalam sepi
aku berteman sunyi 
di selimuti sedih menjalani kehidupan
berharap keajaiban
Sendiri di alam sunyi
tenggelam terkubur keinginan tanpa kenyataan
Aku lelah jalani liku kebohongan 
kemunafikan diri tentang indah dunia fana 
yg penuh neraka nyata

Saturday, March 24, 2012

Potret 3 Cinta

Love Note
Senyumu tulus ketika engkau disisi
Manja saat kau telusuri jemariku ungkap sejuta rindumu
Kau tutur kata setiamu dalam bait syair cintamu
Tapi...
Kau didepanku dgn pandangan di sampingku
Ku genggam kanan jemarimu tapi kau eratkan jemari kirimu dgn sampingku
Mulutmu ucapkan sayang tp bayangmu melayang
Taukah engkau adanya angka dua karna angka satu adanya sengketa karna adanya dirimu

Seanggun Bidadari

Dinginya angin malam ini menyapa tubuhku
namun tidak dapat dinginkan panasnya hatiku yg kau lukai
Terasa terhempas lelakianku karna sikapmu
apakah karna aku sangat kekurangan senangnya kau mainkan
Siapalah aku ini untuk meminta buih yg memutih menjadi permadani
seperti mana yg tertulis dalam novel cinta
Juga tak mungkin bagiku menggapai bintang di langit
menjadikan lentera syarat untuk milikimu semua itu sungguh tak kan mampu
Salah ku coba telah jatuh cinta insan sepertimu seanggun bidadari
Seharusnya aku cerminkan diriku sebelum tirai cinta terbuka aku bukan untuk mencintamu

Bidadari Bangsal Rumah Sakit Tua

Elok suara tiada wujud dalam bicara tiada karsa
Sesekali bercanda diiringi irama tawa di samping orang yg terluka
Acuh kau bicara terekam indah di sanubari tanpa kurasai tentang rasa yg ku akui
Tiada daya paksakan asa bicaraku tiada restu diambil angin yg lalu
Sejenak fikir dan renungi hasrat diri mencoba maknai asa yg tinggal hampa

Sahabat

Gothic With Red Rose
Datangmu dalam hidupku buat melayang
berpelangi berwarna tiada terikat air dalam tetesan gerimis
Ceriamu lepaskan belenggu kalbu
dalam sunyi lamunan yg kelam penuh kekejaman
Tapi....
Sekarang ceria telah jadi hampa dalam ratapan duka nestapa
Pelangi wajahmu sekarang dalam naungan kabut kegelapan
tiada cahaya pantulan mega senjapun hilang dalam guratan kesedihan
Dalam sendirimu ku ingin jadi sandaranmu dalam terpurukmu
Dalam sedihmu ku ingin jadi tawamu dan jika perlu jadi air matamu
Air mata yg keluar dari matamu mengalir di pipimu
dan tenggelam dalam diam bibirmu
dan merasuk dalam nadimu

Roh Yang Terbelenggu

Terjebak roh dalam badan nista
Dan nafsu angkara dunia
Membelenggu menawarkan indah gempita
Kecintaan harta dan kuasa
Semerbak wangi bunga neraka yg menjelma dalam indah
Panorama nafsu halangi jalan menuju kesucian
Tiada henti berikan cobaan kesenangan
Iblis tawarkan kekekalan kemewahan
Bersanding dalam mahligai keabadian
Istana kelam bidadari kegelapan
Turun serahkan penghambaan
Demi teman di neraka jahanam
Menangisku dalam resahku
Akan goda ratu iblis
Akankah mampu rajuti selami impianku
Bersanding berjejer dgn kasihMu
Dalam naungan keabadian kekalMu
Selamatkan aku dalam bincang
Dan bimbangku wahai pemilik
jiwa
raga
karsaku

Tujuh Langit


Eagle In The Blue Sky
Jikaku terbang layangkan
anganku singgah dalam kedamaian
kipaskan hawa cinta yang ada
terbangkan semua rasa
Melayang di awan raih biru langit
gapaikan hangatnya sinar
Tujuh langit tinggi dambakan kekekalan
sebuah keabadian cinta
Menarikku di atas langit
Tebar aroma wangi surga
menghempas kehampaan
akan sinarkan segala kesedihan
Tidurkan diriku dalam puri cinta
bersama sejuta bunga
Semilir angin cinta tetapkan hatimu
dan jangan biarkan pergi

Hampa Dalam Sepi

Tertegunku dalam suka
yang mengikat dua rasa bersama
bagai surga dalam dunia
Dalam sepi yg menghempas
biarku tidur dalam lemas
sorotan aku dalam bias
dan terbangkan aku bebas lepas
Terhempas kini sendiri
hampa dalam sepi
Termenung ku nanti
kau datang kembali
Dalam sepi sendiriku menanti dalam hampaku sibahkan duka

Friday, March 16, 2012

Wake Up

Angel Fall to Deepest
Diam jiwaku terasa suram
sesak nafasku terhimpit beban
sakit hatiku yg tak kunjung hilang
buat diriku muak dan mual
Kelamkan jiwa membuatku lemah
hempaskan aku dari segala masalah
detak jantungku seakan meronta
lupakan masalah yg membuatku gila
Getir darahku serasa luka
gelapkan mata membuatku buta
dalam hatiku seakan meronta
ingin tinggalkan semua yang ada
Lupakan semua buatmu tersiksa
mari bersama kita lupakan rasa
atau kita lelah coba tenang
lepas semua kepenatan
Dalam rasa
lupakan...
jalani hidup seperti dulu
tak ada masalah ...
Yang ada hanya canda dan tawa
lupakan semua rasa...

Cinta Tak Kenal Kasta

Love
Cinta bak intan permata tak mudah di telan masa
hadir dari pancaran mata dan melekat di lubuk jiwa
walau di jalan berbeda namun satu dalam rasa
hitam pekat berlumur dosa dalam dunia bergelimang noda
walau kau terhina di mata mereka namun takkan sirna tak tergoyah
karna cinta tak kenal kasta dimatapun kau paling berharga
suci dan hina bagiku sama memang cinta milik sesama
kaya dan miskin tiada berbeda istana cinta menanti kita

Hening Dalam Diamku

Gothic Silence
Terduduk dalam hening malam gelap kamar temani jasad selami kedalaman sunyi
Seolah rasaku hilang sukmaku jelajahi alam keabadian
Tiada rasa karsa nafsu dan problema
Hilang lebur dening pangestuti yg menguasai roh jiwa ragaku
Inginku selami samudraMu dan tenggelam dalam airMu
Aku hanya segelas air yang ingin tenggelam dalam lautanMu sehingga tidak ada lagi aku
Yang ada hanya Laut

Waktu

Gothic Girl With A Clock
Kuberlari... langkahkan kaki
Pada jalan tak bertepi
Lewati segala mimpi
Yang terus menghiasi hidup ini

Tanpa kusadari
Waktu berjalan tak terkendali
Meninggalkan sejuta kenangan
Yang tak mungkin dapat kulupakan

Kini semua hilang seketika
Sirna tanpa sisa
Tak tau kemana

Wednesday, March 14, 2012

Siksa

Tangisan kedukaan membelah heningnya malam
merangkai kepedihan dalam kesunyian
langit hitam menjadi saksi dosa dosa tak terampuni
penyesalan tiada batas terkubur siksa yg kekal
Arungi seribu derita disana
menangis mata harapkan secercah asa
Menyesal yg tiada guna dalam siksa

Goda Dari Alam Kegelapan

Semilir angin mencumbui badan bersama dingin dekapan malam
Jeritan tangis roh penghuni alam kegelapan coba merayu tawarkan ketakutan
Tekad di diriku buyarkan takut jeritan gadis alam kegelapan
Jeritan hilang berganti bidadari cantik tawarkan keindahan tubuh berbalut sutra samar tebarkan pesona
Ayat demi ayat ku baca demi hilangnya goda
Bidadari hilang berganti melati semerbak mewangi bersama alunan gending jawa
Suara adzan subuh sadarkan tubuh bangkit dari alam keheningan

Nusantara

Nestapa payungi nusantara yg dipimpin penguasa politik dzolim
Raja dibuat tidak berdaya oleh kedaulatan harta pejabat yg tiada bisa menutupi aurat
Bukti tersirat dan tersurat tiada mampu jerujikan si laknat
Teori pembelaan sang laknat benarkan tindakan yg bikin rakyat melarat
Pencuri semangka di bui tanpa pembela karna tiada harta
Pejabat bebas hinggap bagai lalat seakan tiada terusik laknat sang Keramat

Kidung Keramat

Melayang sukma meninggalkan raga
Tinggalkan semua impian menggapai alam keabadian
Terdengar kecapi mengalun iringi langkah kaki
Jeritan gagak neracau nyanyikan kidung keramat
Nyanyian kematian terus berkumandang menghantui jalan kehidupan
Tarian setan begitu riang merasuki taburan kembang budak setan yg datang tanpa iman
Tangismu dalam kubur tiada sanggup melebur dosa di dunia karna tiada bersyukur

Monday, March 12, 2012

Rindu Masa Dulu

Kurindukan hidupku yang dahulu kala
Ketika aku masih suci tiada terkira
Ketika aku belum kenal arah dan tempat
Tuk tau hitam,putih,hijau,biru,jambon,kuning pun tiada sempat
Kapankah aku kan kembali pada hidupku yang dulu
Lahir di alam kematian ini penuh kesusahan
Lantaran kalbu memuat sifat baru

Potret Dunia

Konflik duniawi menghunus dada penuh tikaman kebencian
karna tiada mengerti tugas Illahi
Makna salat seakan tiada arti
cuma hiasan dalam kehidupan
pantaslah alam tak menerima yg katanya kalifah
tapi tiada menjaga anugrah
Pantaslah air yg meluapkan kebencianya dgn bah-nya
karna manusia tiada mensyukuri berkah
Pantaslah bumi bergerak karna muak
diinjak manusia tiada mengerti hak menjaga bumi
sebagai ibu pertiwi
Pantaslah Sunat Tuhan yg berbicara karna manusia ingkar
Dengan tugas yg di bebankan
tugas yg bumi dan langit tiada sanggup mengemban

Kisah Sesal Sesudah Mati

Kuterbang diantara misteri alam
Dalam kesendirianku kucium hangatnya rerumputan
Tanah selimutiku Kutatap sejuta kehampaan
Penantian panjangku kusambut serta derita nestapa Tercipta di hidupku
Harum napasku mengingatkan akan kisahku
Biru langitmu mengingatkan akan kuasamu
Kematian yang agung adalah nyata
Dan ratapan jeritan pilu siksa pun menghampiriku

Tirai Kematian

Harum melati mewangi bergumul dgn asap kemenyan dan kembang kematian
Fenomena kegaiban dalam ketiadaan dan kegelapan
Tersenggal napas insani pemuja setan,kekuasaan kemewahan tiada bisa cegah kematian
Kesaktian keris akan abdi setia dalam kekuasaan dan kekuatan tiada berikan kekekalan
Kekebalan gaman dan pasukan kerajaan hanya jadi pajangan keangkuhan
Tertunduk diam saksikan majikan masuki dunia gaib menjadi pijakan kesesatan
Setan tertawa mendapat teman yg bisa jadikan pijakan dalam neraka keabadian

Sunday, March 11, 2012

Nilai Cintamu

Seteguk menilai cintamu untuk aku berpegang ke ahir hayat
Bila di dalam gerimis engkau pergi kala aku masih lemas di keasyikan kasihmu
Dulu kau beritakan setia bersama sepenuh jiwa raga hingga kini termimpi kasih sayangmu
Melepaskan pedih bisa kehilanganmu berharap dalam asmaramu terhadapku yg setia senantiasa
Rinduku bertahta kasihku membara ku doakan bersemi
Resahku bertandang sengsara mengundang tanpa hadirmu
Dalam hati ada jiwa dalam jiwa ada rasa

Sepi Dalam Sendu


Berulang kali kumencoba membujuk hati lupakan semua kenangan
Namun mimpi bertemu lagi di saat engkau tiada di sisi
Kuberpegang pada janji tercipta antara kita dulu hilangmu tiada terganti biarlah begini
Ku berlayar di lautan tidak bertepian sesekali di segarkan ombak yg mendatar
Aku seperti hilang puncak harapan tumbang
Aku puisikan namamu bersama rindu di dalam sendu

Rasis Putih Biru

Putih...
Kau diangkat bukan untuk jadi penghianat atau melupakan kodrad
Kuasa jabatan ternyata buat engkau lupa akan teman
Dan berpihak pada atasan tanpa memanusiakan teman dan rekan
Ucapmu bengis dan memandang biru dgn sadis seolah biru adalah najis
Kau mengumpati biru saat khilaf hinggap dengan kotor kata jorokmu seperti kotornya hatimu
Putih...
Biru itu bukan budakmu dan juga bukan kekuasaanmu
Kaupun tak berhak memaki,menghakimi apalagi menzalimi biru dgn semau tingkahmu
Yang seakan kau kuasa tiada dua
Putih...
Tak sadarkah engkau manusia itu tak kuasa
Manusiapun tak punya kuasa menguasai manusia lainya
Kau tak punya kuasa atas apa yg kau punya
Tak punya kuasa atas tahta yg kau punya
Tak kuasa atas bahagia yg kau punya
Tak kuasa atas harta yg kau puja
Tak kuasa atas hidup dan matimu tapi engkau masih sombong
Padahal tidak satu manusia,harta,pangkat,derajat yg mampu menjamin dirimu dalam kuasamu

Saturday, March 10, 2012

Bayangan Maya

Jejakmu dalam goresan hidupku
Menaburkan coretan tinta semu
Yang seakan nyata dalam dunia maya
Hadirmu ajari setia
Tiada khianat dalam suasana penat
Dan tabah dalam suasana tiada indah
Konsistenmu tunjukan ketegaran
Hadapi persoalan tanpa mundur
Tanpa penyesalan...
Aku salut biarpun engkau kusut
Tetapi engkau tetap berusaha merajut
Engkau telah memilih jalanmu
Beserta ketentuan takdirmu
Semoga kau temukan pelangi hidupmu
Sesuai kemauanmu

Tuhan Pencipta Kejahatan

Aku adalah hitamnya ari
Hidup dalam sengatan mentari
Menjadikan ‘ku lupa diri
Hukum aku dengan lecutan cambuk api
Yang mendera seluruh sanubari
Agar mengelupas segala daki-daki dari kulit lelaki
Deralah aku dengan murka
Mungkin dengan inilah ‘ku kan jera
Memandang lagi dunia dengan cinta
Darah merah biarkanlah teralirkan
Jatuh kebumi dalam kepasrahan
Dan sisakanlah darah putih yang membersihkan
Tuhan telah mencipta kejahatan
Agar aku belajar tentang kebaikan
Karena Diamencintai ketaatan

Kamboja Bergoyang Setelah Pemakaman

Bukit-bukit akhir sebuah pandang bisu.
Kabut yang ditiupkan angin bertebaran hancur membuat angkasa satu warna. 
Di langit seribu muka bergadha dalam iringan keok gagak hitam berkibaran.
Tanda jarum kapankah bila aku tinggal cuma punguti mimpi bersamamu. 
Tanda tunjuk manakah bila sepanjang kenang lalu bersamamu kini buntu kaki.
Pernah kau katakan betapun terasa kita punya letih tak bakalan terminal memberi henti seterusnya.
Itu hanya istirahat, dimana ancang ancang karena seribu jalan lagi telah menghadang. 
Dan kita diharuskan buati sejarah jejak-jejak.
Kita mesti bermarathon.
Itu katamu ketika justru dokter membisu sambil hanya gelengan kepala tak yakin pada dirinya.
Kita mesti berlari kencang.
Itu katamu ketika justru nafasmu pendek menipis di paru-paru.
Kamboja bergoyang usai pemakaman. 
Aku melihatmu berlari kemenangan.
Aku melihat duduk senyum manismu di warung minum apa terminal mana.
Aku melihatmu begitu ayu dalam buaian angin semilir ketika hendak siapi titian jembatan shiroothol mustaqim.
Iklaskanlah aku ya, sajadahmu.
Ikhlaskanlah aku ya, jilbabmu.
Ikhlaskanalh aku ya, lapang dadamu di setiap kau hadapi persoalan malam ku.
Sabarmu tak ada henti di sewotku.
Kamboja bergoyang usai pemakaman.
Aku kembali dalam getar sadar kemiskinan.
Aku kembali sambil kupunguti topeng topengku yang bergantungan di jalur langit. 
Aku hitung itu semua.
Kubakar selekasnya.
Aku menangis.
Izinkanlah aku mandi di pancuran fitrahku.
Lewat air mataku.
Lewat sajadah tinggalanmu.
Amin.

Kidung Mayat

Di dalam kubur jasadku terbujur
Terkubur gelap cahaya
Menghilang aku sendiri
Dalam keheningan
Berselimut kafan
Tertimbun reruntuhan tanah
malaikat datang
Sesal menghampiri atas siksa
Dosa yang menyertai
seiring waktu busukkan jasadku
jerit menggema tiada yang peduli
Siksa kuburku hingga kiamat menjelang
Hanya mengharap ampunan Illahi
aku tak kuasa kembalikan masa lalu
Tuk meluruskan jalan kesesatan

Sunday, March 04, 2012

Kematian

Biarkan aku terbaring dalam lelapku kerana jiwa ini telah dirasuki cinta
dan biarkan daku istirahat
kerana batin ini memiliki segala kekayaan malam dan siang.
Nyalakan lilin-lilin dan bakarlah dupa nan mewangi di sekeliling ranjang ini,
dan taburi tubuh ini dengan wangian melati serta mawar.
Minyakilah rambut ini dengan puspa
dupa dan olesi kaki-kaki ini dengan wangian,
dan bacalah isyarat kematian yang telah tertulis jelas di dahi ini.
Biarku istirahat di ranjang ini, kerana kedua bola mata ini telah teramat lelahnya
Biar sajak-sajak bersalut perak bergetaran dan menyejukkan jiwaku
Terbangkan dawai-dawai harpa dan singkapkan tabir lara hatiku.
Nyanyikanlah masa-masa lalu seperti engkau memandang fajar harapan dalam mataku,
kerana makna ghaibnya begitu lembut bagai ranjang kapas tempat hatiku berbaring.
Hapuslah air matamu, saudaraku, dan tegakkanlah kepalamu
seperti bunga-bunga menyemai jari- jemarinya menyambut mahkota fajar pagi.
Lihatlah...
Kematian berdiri bagai kolom-kolom cahaya antara ranjangku dengan jarak infiniti
Tahanlah nafasmu dan dengarkan kibaran kepak sayap-sayapnya.
Dekatilah aku, dan ucapkanlah selamat tinggal buatku.
Ciumlah mataku dengan seulas senyummu.
Biarkan anak-anak merentang tangan-tangan mungilnya buatku
dengan kelembutan jemari merah jambu mereka
Biarkanlah Masa meletakkan tangan
lembutnya di dahiku dan memberkatiku;
Biarkanlah perawan-perawan mendekati dan melihat bayangan Tuhan dalam mataku
dan mendengar Gema Iradat-Nya
berlarian dengan nafasku.

Gelap

 langit gelap
jutaan gagak memenuhi langit
datang dari goa-goa yang gelap dan lembab
dari padang yang kering tandus
merentang sayap berputar-putar mengerikan
suaranya melengking menyayat
amarah yang terpendam, amarah tertahan
gentayangan bagai mayat bangun dari kuburan
karena mereka pun tak mau menerima
gerhana matahari, gerhana hidup
mereka menutupi cahaya matahari
memakan bangkai dari apa saja yang tersisa
hinggap diatas lawan, diatas rumah
didahan-dahan pohon yang mati kering
mengintai mangsa, menanti bangkai temannya
sendiri yang mati kelaparan
bau bangkai menyengat dimana-mana
saling menerkam diantara mereka sendiri
sekedar bertahan dari kematian
yang segera datang menjemput
tak ada cahaya matahari
tak ada kehidupan
tak ada apa-apa
hanya ada ketegangan dan keganasan
ketegangan yang mengandung bencana
gagak terus berputar semakin gamang
marah pada apa
marah pada siapa
marah pada marah yang tak terlampiaskan
sampai pada saatnya nanti
mereka jatuh terkapar dan mati
tapi dimana cahaya kehidupan
tak ada yang lain
hanya ada jutaan bangkai gagak
berserakan berbau amis dan busuk
aah..bau busuk kehidupan
menyusup menebar kesudut-sudut kota
dan kita menghisapnya

Saturday, March 03, 2012

Syair Berdarah

Tiupan serulingmu, berdenting nyaring di indera pendengaranku
Seolah memanggil jiwa ini, di kesunyian hati tak terperih
Kutemui kau sang jubah hitam, di ujung persimpangan malam,
Sebongkah batu tertunduk pilu, manakala kau berkata,"waktumu sudah tiba...!"

Ilalang sontak cemas, berpegang teguh di akar rapuh
Pucat menghinggapi wajahnya
Manakala kau berkata,"waktumu belum tiba!"
 
Kau hampiri diriku, yang menggigil di tepi takdir
Kau lepaskan jubah kebesaranmu
Menyematkan di dingin badanku
"Telah tiba masamu bertemu kekasih jiwamu
Usah takut dan meragu 
Telah berakhir segala resah dan gundah di penantian hari-harimu"

Kusambut tanganmu, yang memelukku hingga bermandi peluh
Kitapun menari di angkasa, meninggalkan seonggok tubuh layu
Berselimutkan ilalang tertunduk haru di tepi batu

Pusara Kelam

Tirani hidup..
Antara gelap dan terang
Berputar mengelilingi
Jiwa dan ragaku ini
Kucoba untuk sembunyi
Atau kuharus berlari
Mengejar bayangan diri
Dan pergi tak kan kembali
Sesaat jauh memandang
Dipuncak kesendirian
Kerap datang menghadang
Getir penderitaan
Mengoyak segala
Impian dan harapan
Terpuruk didalam deru pusaran kelam
Lepas jiwaku menuju angkasa
Terbang bersama sayap kecewa
Kelak jiwaku kan turun kedunia
Dengan segenggam api durjana
Terasa membekas segala yang ada
Seperti tersayat sebilah pedang berkarat
Tlah kurasakan semua..
Yang kuimpikan semula
Bahwa yang pernah kupuja
Hanya sebongkah batu biasa
Terpampang jelas di ufuk barat
Berkerudung hitam di padang gersang
Mengumbar sabda palsu belaka
Tentang surga dan keindahan..
Sesaat jauh memandang
Dipuncak kesendirian
Kerap datang menghadang
Getir penderitaan
Mengoyak segala
Impian dan harapan
Terpuruk didalam deru pusaran kelam

Untaian Legam

Awan hitam bergerak
Berjalan beriringan
Terbawa angin malam
Dan wajah sang rembulan
Redup tampak temaram
Enggan untuk bersinar
Hawa dingin menyengat
Beku menusuk kalbu
Hampa kian terasa
Tatap mata terhalang
Jalan terbalut kabut
Langkah tetap terarah..
Smakin kelam warna malam
Larut dalam keheningan
Riuh suara kepak sayap
Terbang rendah berterbangan
Pucat daun berguguran
Patah ranting berserakan
Jalan masih teramat panjang
Jelang fajar ku kan datang
Mengakhiri segala tentang
Kuasa tuhan di dunia
Menghancurkan satu legenda
Juru selamat manusia
Hingga akhirnya pintu neraka
Terbuka lebar untuk semua
Tiada ruang bagi mereka
Karena surga telah terbakar
Manusia berlumur dosa
Ternoda nafsu angkara
Untaian legam di dunia
Jadikan keabadian..
Jiwa yang gelap tetaplah gelap
Padamkan semua lentera kesucian
Hati yang kelam tetaplah kelam
Untaian legam bersama selamanya..

Thursday, March 01, 2012

Pasungan Gerbang Mayapada


Terbujur jasad dalam duka
Dengan wajah nista mendekap luka
Darah masih menggenang sisa kehidupan
Gelap mata terpejam jauh menerawang
Arti semua ini, arti hidup ini..
Benih kepalsuan tumbuh berserakan
Dalam penantian, dalam keraguan..
Menjadi pasungan gerbang mayapada
Saat datang kabut malam
Dengan sayap malaikat kematian
Getar cambuk membelah hingga ke nirwana
Jagad alam semesta terpaku mendengar
Jerit kasakitan, jerit kepedihan
Manusia tersesat tersungkur disana
Rasa penyesalan dan kekecewaan
Menjadi jawaban atas semuanya
Hampa yang terasa dipeluk keheningan
Pekat kegelapan penjara tanpa kedamaian
Jiwa terbelenggu kala hati berlabuh
Pada kenyataan diantara dunia
Hancur dan terbuang gelap hat memandang
Setiap jalan tuhan menjanjikan keabadian
Tapi semuanya berganti kehancuran
Tetap di Pasungan selamanya di kegelapan..
Terbujur jasad dalam duka
Dengan wajah nista mendekap luka
Darah masih menggenang sisa kehidupan
Gelap mata terpejam jauh menerawang
Arti semua ini, arti hidup ini..
Benih kepalsuan tumbuh berserakan
Dalam penantian, dalam keraguan..
Menjadi pasungan gerbang mayapada