Saturday, March 10, 2012

Kamboja Bergoyang Setelah Pemakaman

Bukit-bukit akhir sebuah pandang bisu.
Kabut yang ditiupkan angin bertebaran hancur membuat angkasa satu warna. 
Di langit seribu muka bergadha dalam iringan keok gagak hitam berkibaran.
Tanda jarum kapankah bila aku tinggal cuma punguti mimpi bersamamu. 
Tanda tunjuk manakah bila sepanjang kenang lalu bersamamu kini buntu kaki.
Pernah kau katakan betapun terasa kita punya letih tak bakalan terminal memberi henti seterusnya.
Itu hanya istirahat, dimana ancang ancang karena seribu jalan lagi telah menghadang. 
Dan kita diharuskan buati sejarah jejak-jejak.
Kita mesti bermarathon.
Itu katamu ketika justru dokter membisu sambil hanya gelengan kepala tak yakin pada dirinya.
Kita mesti berlari kencang.
Itu katamu ketika justru nafasmu pendek menipis di paru-paru.
Kamboja bergoyang usai pemakaman. 
Aku melihatmu berlari kemenangan.
Aku melihat duduk senyum manismu di warung minum apa terminal mana.
Aku melihatmu begitu ayu dalam buaian angin semilir ketika hendak siapi titian jembatan shiroothol mustaqim.
Iklaskanlah aku ya, sajadahmu.
Ikhlaskanlah aku ya, jilbabmu.
Ikhlaskanalh aku ya, lapang dadamu di setiap kau hadapi persoalan malam ku.
Sabarmu tak ada henti di sewotku.
Kamboja bergoyang usai pemakaman.
Aku kembali dalam getar sadar kemiskinan.
Aku kembali sambil kupunguti topeng topengku yang bergantungan di jalur langit. 
Aku hitung itu semua.
Kubakar selekasnya.
Aku menangis.
Izinkanlah aku mandi di pancuran fitrahku.
Lewat air mataku.
Lewat sajadah tinggalanmu.
Amin.

0 Comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung kawan.
Jika tidak keberatan silahkan tinggalkan komentar di bawah ini