Sunday, April 29, 2012

Kehidupan Masa SMA Fla


 By Intan Alissades
‘Masa SMA adalah masa-masa paling indah’

Begitu kata orang-orang. Mungkin orangtua atau guru kita menganggap sekolah itu rutinitas biasa. Tapi jauh di luar itu, banyak sekali hal menyenangkan dan gak menyenangkan yang dirasain setiap siswa. Ada rahasia, tentunya yang gak diketahui orangtua ataupun guru kita. Ada persahabatan, permusuhan, persaingan, cinta, gosip, canda tawa, haru tangis. Bisa rasain malasnya berangkat sekolah pagi-pagi, senangnya ketemu temen-temen, dibentak guru, tersiksanya saat ujian, dag dig dug der-nya penerimaan raport, senangnya dapat nilai 100, sampai hati berbunga saat disapa cowok idola kita. Manis asem asin, rame rasanya.



Itu yang gue rasain selama gue sekolah di SMA 13 ini. Sekarang gue duduk di kelas 12 IPS 1. Ya gak cuma duduk sih, kadang berdiri, kadang jongkok. Gue termasuk anak pas-pasan dalam pelajaran. Gak pinter, juga gak bego-bego amat. Terbukti dengan peringkat gue di kelas, peringkat 39 dari 40 siswa. Syukur, masih ada yang lebih bego dari gue.

Oh ya, nama gue ‘Flanata Tinia’. Temen-temen panggil gue ‘Fla’. Sekedar gambaran fisik sih, gue cantik dan itu Emak gue yang bilang. Gue gak tinggi, juga gak pendek. Kulit gue gak putih, juga gak hitam. Rambut gue gak panjang, juga gak pendek. Serba pas-pasan deh.



"Woi maju woi, keburu telat nih" Radit teriak sembari mengklakson motornya. Suasana yang gue alamin setiap pagi. Antri masukin motor ke parkiran yang super duper ramainya.



"Berisik" gue teriakin balik.



"Bersisik? Lo kira gue uler?” Radit adalah teman sekelas gue yang telinganya perlu diperiksakan ke dokter THT.



"Bisa gak sih parkirin motor?" ejek Pak Satpam. Tiap pagi gue jadi mangsa ejekan Pak Satpam. Maklum, gue aja parkir belum lurus.



Gue lari secepat yang gue bisa. Tentunya amat sangat cepat banget sekali very very. Oke, agak lebay ya.

Seharusnya tadi gue makan biskuat dulu biar lari secepat harimau, sayangnya gue malah keliru makan oreonya Afika.



Sampai di kelas, ternyata udah ada Mr. Deno, guru bahasa Inggris yang terkenal.... galak.



"Morning, Sir. I'm so sorry, i'm late." gue sok manis.



"Who are you? Whoever late in my class is not my student. Go out !"



Yah beginilah keseharian gue. Jadi mangsa ejekan Pak Satpam, langganan terlambat dan disemprot guru pagi-pagi.



"What a pity I am" gue galau.



"Pagi, cantik !" suara Lita ngagetin gue. Lita adalah teman sekelas gue waktu kelas 1, tapi penjurusan sekolah memisahkan kita. Dia di IPA dan gue di IPS.



"Makasih atas penghinaannya. Mau olahraga ya? Viko mana?" balas gue.



"Ciee, pagi-pagi nanyain sang idola. Noh udah di lapangan basket. Napa lo? Telat ya? Ga boleh masuk sama guru?"



"Kok tau?"



"Karena kau telah menelatkan hatiku"



"..."



Gue jalan ke lapangan. Pengen lihat sang pangeran main basket.



"Sumpah, ganteng banget Viko." batin gue. Khayalan gue melesat ke angkasa. Aku ingin terbang dan menari, jauh tinggi ke tempat kau berada.



Dengan backsound lagu Bintang Kecil, tiba-tiba muncul adegan flashback hitam putih di otak gue.



Dulu waktu pertama masuk SMA ini, gue bener-bener sendiri, gak ada temen SMP atau temen sepermainan yang sekolah disini. Sampai akhirnya di kantin, gue ketemu Viko. Gue gak sengaja numpahin kuah nasi goreng ke bajunya. Ini nasi goreng modern, jadi ada kuahnya. Aih, udah kayak sinetron aja.



"Woi, panas !" dia marah.



"..." gue bengong liatin dia. Ya, dia ganteng banget. Dude Herlino aja lewat. Lewat depan rumah gue waktu itu.



"Hello? Punya mata gak sih?" dia melambaikan tangan tepat di muka gue. Mungkin dia pikir ini acara uji nyali.



"Mata? Punya gak ya? Kasih tau gak ya?" gue jawab sekenanya. Gue lirik bet seragamnya, ‘Viko Herlambang’. Sekarang gue tahu nama pangeran ganteng ini.



"What? Are you mad?"



"I'm Flanata Tinia. And you can call me.... beib" gue mulai gila dan Viko meninggalkan gue.



Yah, sungguh pertemuan pertama yang romantis.



Tiba-tiba khayalan gue runtuh satu-persatu karena dari ruang guru terdengar orang manggil-manggil nama gue.



"Flanata. Sini kamu !" suara Bu Bekti berdendang merdu di telinga, menandakan akan ada kejadian mahadasyat.



"O ow, mampus !" gue hampir pingsan.



"Flanata, dengar gak perkataan Ibu? Kemari !"



"Demi masa sesungguhnya manusia kerugian, ngapain Bu Bekti manggil gue." gue jalan menghindar, pura-pura insomnia, eh anemia, apalah itu gue bukan anak IPA. Tiba-tiba telinga gue dijewer.



"Hayo, mau kemana kamu?" Bu Bekti melotot.



"Ah, sa..sa..sakit bu." gue meringis kesakitan.



"Ibu perhatiin daritadi kamu disini."



"Oh itu. Anu bu anu, anunya ibu anu. Hehe. Anu bu."



"..." bu Bekti tambah melotot.



"Saya cuma lihat anak IPA 1 main basket."



"Itu kan 2 jam yang lalu. Kayak kurang kerjaan aja daritadi berdiri disini."



Gue baru tahu, ternyata adegan flash back memakan waktu lama. Dan gue gak menyadari itu.



"Oh, saya lagi mau ngerasain jadi patung pancoran. Hehehe" gue cengengesan dengan garingnya.



"Sana masuk kelas ! Habis ini pelajaran ibu, ulangan !"



"Loh? Kok ulangan bu?"



"Kan sudah ibu kasih tahu minggu kemarin. Hari ini ulangan semua bab."



"O ow, mampus !" batin gue. Ulangan Matematika dan itu semua bab. Gue lupa karena gak inget. Bu Bekti balik badan mau pergi.



"Bu, tunggu ! Ulangannya ditunda minggu depan aja ya?"



"Gak bisa."



"Ibu baik deh."



"Modus. Ibu gak akan kerayu sama kamu !"



"Bu Bekti kurusan loh. Jadi terlihat lebih cantik." Apa kata dunia seorang Bu Bekti yang kayak sumo itu dibilang kurus. Yah, terkadang bohong itu diperlukan juga.



"Serius kurusan?"



"Serius dong."



"Oke, ulangan ditunda minggu depan."



"Aseeek !" hati gue menari-nari. Hati memang organ tubuh yang keren. Bisa menari-nari, bisa sakit, bisa menangis.



*****



"Jadi, saat Belanda menduduki wilayah Indonesia...."



"Wah, sakit dong bu didudukin" Aldi nyeletuk. Aldi adalah salah satu makhluk yang menghuni kelas 12 IPS 1. Sepertinya kadar kewarasan gue menurun sejak duduk sebangku sama dia.



"Siapa yang bawa nasi uduk?" Radit tiba-tiba nyambung. Dan pastinya salah sambung. Mungkin dia lemah dalam hal mengingat nomor telepon.



Seisi kelas ketawa. Bel jam pulang sekolah pun juga ikut ketawa.



*****



"Hei, Fla ! Pulang bareng yuk !" Seperti biasa, Tora anak kelas 12 IPS 3 ngajak pulang bareng. Dia teman deket gue, teman curhat masalah apapun."



"Hei ! Oke mamen !"



"Laper nih, jajan dulu ye di depan?"



"Iya, gue dibayarin kan?"



"Ape lu kate?" logat betawi si Tora memang kental. Bikin telinga gue mules.



"Kate? Gue manusia kali."



"Iye tenang aje, gue bayarin tapi pake duit lo yak?"



"..."



"Gimana perkembangan hubungan lo sama pangeran lo itu?"



"Stuck di tempat."



"Bukannya lo udah dapet nomor handphone-nya?



"Iya sih. Pernah gue telepon kok."



"Bilang apa aja lo?"



"Gak bilang apa-apa, soalnya pas dia angkat, langsung gue matiin."



"..."



Sejak pertemuan romantis gue di kantin sama Viko. Gue rasa gue jatuh cinta pada pandangan pertama awal aku berjumpa, seolah-olah hanya impian yg berlalu. Sungguh tak kusangka dan rasa tak percaya. Cowok setampan diaaaah datang menghampiriku.



Entah mimpi gue bakal jadi kenyataan atau gak. Pintar, ganteng, anak basket. Hah, bikin gue tambah down.



(to be continued)

Heart Of The Frozen One


By: Past The Line
 
Tuhan ciptakan mereka begitu sempurna
diberi hati dan jiwa
sedang aku...
hanya segumpal darah hitam membeku
atau sekerat daging yang mulai membusuk
potongan jasadku telah dipenuhi beribu belatung
dan disalib di tiang-tiang neraka
aku bukan calon nabi akhir zaman
atau ruh yang bertahta di kerajaan Tuhan
aku hanya pantas dineraka
gelap telah menjadikan raja disinggasananya
aku berthta diatas jiwa yang kusesatkan
saat segalnya datang begitu sempurna
hingga seakan sanggup meruntuhkan kerajaan Tuhan
aku hanya terdiam menahan tangis
Tuhan tak pernah ada
dalam singgasana hati yang hampa

Friday, April 27, 2012

Cintamu

Lembut belaimu
luluhlantakan kerasnya hatiku
yang telah lama membatu

kasih sayangmu
membuatku tak berdaya
lemah terkulai dihadapanmu

mungkin aku tak sempurna
mungkin aku memang tak berharta
namun hati ini selalu berkata
Aku kan coba untuk setia

Thursday, April 26, 2012

Serpihan Hatimu

Halus tanganmu
Kutarik pelan
penuh kelembutan
Kutatap mata indahmu
yang memikatku

Sorot mata itu
Tawa renyah itu
Wajah sedih itu
Tak kan pernah bisa kulupa

Mungkin dulu...
Pernah ku menghancurkan hatimu
Hingga berkeping-keping
Namun...
Kini ku kan berjanji
Serpihan-serpihan hatimu
Dulu pernah kulukai
Akan kurangkai Kembali
Dengan sejuta kasih
Tulus kuberikan untukmu
Wahai Bidadariku

Sunday, April 15, 2012

Uang Berkata Apapun Bisa

lahir dari keadaan yang terdesak
Surti yang mulai mengenal lawan jenis
terpaksa harus menuruti kemauan orang tuanya
dia harus diperistri Rentenir kaya
Pak Kurut namanya
Renternir kaya, beristri segudang
Surti pasrah menerima
meskipun harus menjadi istri ketujuhnya
demi melihat orang tuanya senang
karna hutangnya sudah menumpuk
dan tak mampu lagi orang tuanya menanggung

Inikah potret masa kini?
segalanya bertuhankan uang
bahkan kebebasan memilih pasangan pun
ditentukan dengan uang dan materi

oh.... jaman mungkin sudah edan
atau mereka telah dibutakan
Nasib.. nasib...
orang kecil selalu ditindas
 

Saturday, April 14, 2012

Kerangka Angan

semilir angin malam membuaiku larut dlm lamunan
Khayal tentang keindahah buai dlm gurauan
serta janji dlm genggaman jemari
Semakin dalam ku terperosok diangan dalam kerinduan
Semakin aq lupakan
semakin ku sadari kerangka cinta membentur dinding masa
Saat sadar ku hanya pipit yg mengharap merak tuk jd pendamping yg tak mungkin

Sesal

Menjauh dlm bising ragawi menembus sisi ruhani kuingini
Melepas penat dgn segala pekat yg menghiasi dinding gelapku
Bersimpuhku dalam himpitan dan jeritan siksa ragawi yg penuh kesesatan hati
Benci
dendam
sepi tak tertepi hinggapi hitam ragawi
Hilang..
musnah..
lenyap... 
kini kutemui segala asa dgn duduk bersila tuk curhat pada yg ESA

Pahlawanku

Kau lewati masa dgn asaku
Bergumul dgn sepi
bertahan dgn sepenuh hati
Rinduku jadikan semangat dlm meniti hari sepimu
Setiaku jadikan tatanan bantahan setiap cobaan
Pagi kau coba teguk hidangan bertahan tak dimuntahkan
Siang kau bertahan dgn panasnya dahaga
engkaupun coba teguk hidangan
tapi tak tertahan tuk kau muntahkan
Sore tlah letih dgn perih
dan jalan tertatih kau coba lezatkan hidangan tapi termuntahkan
Malam engkau tak tenang
bersimpuh berdoa dlm dingin
dan tetesan air mata berharap segera berlalu coba
Perih
sedih
sepi
pilu
layu
kau lakukan demi asaku

Diatas Mahligai Kesombongan

Secuil kata pemerah telinga
bermuncul dari mulut indah
yang menghujam dada
Menusuk bagai sembilu diatas luka lama
yang bercampur nipis yg tertetes
Mahligai yg telah terbina
tak tersisa dgn asa yg musnah
terinjak harta dunia
Seakan kau tuhan yg menuhankan hartamu
Wajah satu muka dgn hiasan penuh kemunafikan
bersama tutur katamu yg dingin membeku
di atas mahligai kesombongan

Thursday, April 12, 2012

Realita Hidup

ketika waktu tak lagi berputar
ketika cinta tak lagi berakar
ketika semua telah terbakar

ingin kurajut lagi semua mimpi
yang dulu pernah kutinggal pergi
terlupakan dan tak kembali

dulu ku lupa
dulu ku tak berdaya
dulu ku terobsesi pada satu titik
yang bahkan aku tidak tau
apakah itu baik atau buruk

kusesali apa yang telah terjadi
kusesali mengapa kupilih jalan ini
jalan yang tak seharusnya aku lalui

hati ini terus berkata
cobalah tegar hadapi hidup
namun diriku tak mampu menerima kenyataan
yang menyesakkan ini

apakah aku dilahirkan harus seperti ini?
penuh dengan kehinaan dan kebusukan
hati terus bertanya pada sesosok terang dalam kegelapan
meronta meminta sebuah pertanda
apa yang harus kulakukan kedepannya

Keranda Kegelapan

isak tangis perih surutkan angkuh sombong hati manusiawi
Ruh ratapi musnah ragawi dgn mahkota permata ego di hati
Sisi tangan gelang intan tak lagi jadi saksi martabat diri
Sombong angkuh munafik menyeret siksa pedih tiada ampun lagi
Bertabur kembang hiasi kepergian
tanpa amal kebajikan yang di payungi mega gelap
Kereta senja pengantar menuju keabadian siap tanpa pandang
Roda insan pakaian hitam pengantar ke petilasan
Tiba kain kafan di tanah kramat petilasan di iringi doa kematian
Akankah kita diam dgn fenomena alam pengajar kebaikan atau diam tak peduli gejala alam

Di Batas Senja Kehidupan

layu tak bergeming penuh perih
dengan raungan sedih
tak berdaya badan merintih
Masa muda dengan selaksa peristiwa
berbadan penuh mantra
dari sang jin sang laknat
Petang datang bawa kafan
tanda hilang waktu tahta jin di kandung badan
Tiada guna parang tak terterjang
belati tak menguliti 
kalau tua cuma jadi caci
Kerudung hitam siap hantar jasad menuju batas senja kehidupan

Tuesday, April 10, 2012

Sistem Keadilan Semu

Sistem penjilat penganut kesesatan
bernaung di rumah tempat semua berita di olah
dimana yg bawah jadi sampah
yg atas jadi penguasa penuh serakah
sedang yg dipercaya tentang hak orang bawah
menjilat demi kata wah....
Ultimatum keadilan sebagai kedok keserakahan
Penghasilan per bulan di olah dgn berbagai situasi dan kondisi
Kau bangga jika anak buah keleleran berburu buah keringat yg kau pilah
Keresahan tentang kepulangan dgn segudang alasan
kau anggap pemandangan mengasikan tentang keresahan

Drama Kematian

Hitam gelap di iringi tangis kerudung hitam
terbujur kaku tiada denyut sang insan
tangisan bersautan disamping bujuran mayat
Bersiap raga dimandikan tanda penyucian
Guyuran air bertabur kembang
basahi tiap lekukan
Tiada daya raga tak berjiwa
Dingin pucat layu kaku
Kain kafan terpasang usai tersucikan
Suratan kehidupan telah usai terlampaui
Diiringi rombongan berkain hitam
Goa gelap tanpa teman jadi naungan
dan taburan kembang kematian telah tertaburi diatas gundukan
sebagai salam perpisahan

Sekar Langit

Langkah riang iringi tawa nyanyian bersama sautan dalam rindang kebersamaan
Gemericik air siulkan kedamaian pemecah beku batu rindu
Putih abu-abu saksi bisu pengenalan hati dlm rangkaian suci
Basah putih abu-abu seiring syahdu nyanyian sendu bergandeng tangan ke satu
Surut mentari sudahi riang hati berharap suatu hari jadi senyuman paling berarti
Biarlah semua berjalan dgn penuh makna sahabat atau cinta yg akan tercipta
Biar smua indah tetap pada terasa indah

Sunday, April 08, 2012

Gejolak Nurani

 Dini malam bersajak bintang
bermahkota embun kesunyian
ku tata jemari tanda penghambaan diri
Belenggu jiwa penuh dosa menghantui
menyelubungi urat nadi
Lantunan rintihan pengharapan
ampunan iringi tetesan air kerinduan
Cacat kehidupan hak jiwa serasa ternoda
angkara murka terbayang dlm himpitan dosa kelam
Penghambaan kuinginkan dgn pengharapan
jadi kasih abadi dlm hidup dan kehidupan sejatiMu

Kerinduanku

wahai makhluk Tuhan
Makhluk yang diciptakan dari tulang rusukku
kurindukan kehadiranmu

Dalam anganku...
kubayangkan sesosok bidadari nan rupawan
tutur kata penuh dengan kehalusan
gerak semampai penuh keanggunan
sesosok insan yang membuatku kan lemah tak berdaya
membuatku diam terpana tak bergerak

datanglah dalam hidupku yang kelam ini
datanglah dengan membawa secercah sinar harapan
datanglah dengan sebuah cinta suci
penuh dengan ketulusan

Saturday, April 07, 2012

Kegelapan Alam Palakan


Dia mengumbar amarah angkara murka terjerat mimpi indah gempita dunia
Akankah misteri kegelapan malam tersisa hanya risaukan hati
Saat di dunia berjuang di kegelapan penuh penyesalan bersama nyawa yang mendekati mati
Biar siluet kehidupan khayangan setitik cahaya menjadi arti
Meratap dengan menakutkan di siksa,tersiksa,dosa terasa
Tertawa lalui gempita dunia tercipta bencana semesta
Suara tangis tengah malam lenyapkan damai
Mati di dunia telah tiba renggut nyawanya
Desir angin malam hilang diantara kain kafan
Kegelapan palakan kan menjadi nyata

Bisikan Indah Penuh Rona


Sebuah bisikan indah
mengalun merdu lagi dipendengaran ini
sebuah kata yang mungkin bagiku
sudah ku anggap tak ada dalam kamusku

Cinta...
sebuah kata singkat dan penuh makna
sebuah kata yang penuh cerita
sebuah kata penuh dengan bahagia
dan juga sebuah kata yang penuh dengan nestapa

Dalam batinku...
ku menangis sedih
tersedu-sedu penuh tetes air mata
mengingat diriku yang tak pernah bisa
meraih cinta yang selalu aku damba

Semoga suatu saat
kan datang seorang
yang kan temaniku
dalam suka maupun duka

Friday, April 06, 2012

Insan Tanpa Cinta


Embus pagi menetes
lirih meluruhkan hati
jiwa ini terasa damai

Terbayang raut wajah indahmu
yang telah lama tak mengisi hati
hati ini kini kosong tanpa cinta
penuh dengan derita

kuharapkan sejuta cinta hadir lagi
warnai hidup yang sepi
berikan sejuta mimpi-mimpi

oh.. cinta
mengapa kau tak pernah berpihak padaku
berpihak pada jasad yang haus dengan nikmatmu

Bulan

Dulu bulan punya kekasih.
Dan mereka hidup bahagia di dalam dunia roh.
Tiap malam mereka mengarungi langit.
Tapi ada 1 roh yang iri dengan hubungan mereka,
Bulan Sabit yang berasal dari selatan.

Dia bilang kepada bulan Cincin,
Bahwa kekasih'mu bulan Purnama meminta kau memetik bunga.
Lalu bulan Sabit menyuruh Bulan Cincin agar,
turun ke dunia dan memetik bunga mawar.

Tapi bulan Cincin tak tahu,
bahwa setelah ia meninggalkan dunia roh,
dan turun ke dunia,
dia tak'akan pernah bisa kembali lagi ke dunia roh.

Maka tiap malam bulan Cincin menengadah,
melihat bulan Purnama di atas sana dan meneriak'kan namanya.
Dan sang bulan Cincin'pun tak akan,
pernah bisa lagi menyentuh sang bulan Purnama.
Sedangkan di atas sana,
bulan Purnama hanya bisa menyinari dunia dengan kesepian nya.

Dan sekali-kali sang bulan Purnama,
membentuk awan agar menjadi sebuah cincin,
untuk mengingat sang bulan Cincin.

Di sisi lain,terkadang sang bulan Sabit'pun,
menampak'kan diri nya di langit untuk,
melihat dan menertawakan sang bulan Cincin di dunia.

Thursday, April 05, 2012

Mati Menuju Kekekalan

Sebuah angan tak berwujud nafas yang memburu
Bertahta diatas singgasana raga yg membeku
Tetes darah mengalir di wajah sambut nyawa yg sejengkal
Gagak terbang di tengah malam temani sambut kematian
Hancurnya petaka dunia lenyapkan seisi bumi
Jerit tangisan manusia tenggelam dalam kegelapan
Ingin menjerit meratap sedih
Jasad terkubur jalani siksa
Kemurkaan tak hilang di telan sesal tersungkur bersama azab dan dosa
Akankah noda ini mimpi-mimpi buruk tersesat dari semua kebatilan
Lorong gelap kan jadi tempat terkapar dari dosa hidup
Jerat sukma alunkan kalbu
Bias luka hamparkan nista gelap malam penuh misteri
KEHIDUPAN SEMU DALAM JIWA

Rambu Barak Atas

Bertengger kekar lambang jiwa sesat penuh maksiat sang pemenjara jiwa yg bebas
Engkau berangkara dgn falsafah mewah tanpa tau anak buah resah dan hanya bisa pasrah
Doktrin penyesatan engkau gubah kau bungkus dgn jubah megah
Simbolmu kau pasang sebagai aturan larangan ke kebaikan
Rambumu pemangkas jiwa jiwa yg ingin bebas jalani tugas
Seringkali kekuasaanmu batasi impian harapan bersosialisasi dan kau penjara jiwa bebas dlm terali besi

Pijar Mentari

Terhimpit gelak tertawa di sela meriah pesta
seribu gembel ikut menari seribu gembel terus bernyanyi
keras melebihi lagu tuk berdansa keras melebihi gelegar halilintar yg ganas menyambar
ku yakin pasti terlihat dansa mereka begitu dekat
ku yakin pasti terdengar nyanyi mereka yg hingar bingar
Seolah kita tidak mau mengerti seolah kita tidak pernah peduli pura buta pura tuli
mari kita hentikan dansa mereka dgn memberi pijar matahari
Terkurung gedung gedung tinggi wajah murung yg hampir mati
biarkan mereka iri wajar bila mencaci maki
nafas terasa sesak bagai terkena asma nampak merangkakak degup jelas jantung berdetak
tak sanggup aku melihat lukamu kawan di cumbu lalat
tak kuat aku mendengar jeritmu kawan melebihi dentum meriam

Terkoyak Rasa

Senandungmu tawarkan sejuta rindu berikan kebahagiaan semu
Matamu pancarkan kelembutan pembunuh tanpa kasihan
Senyumu sengketa dalam batin otaku peradang sendi nurani
Bibirmu lantunkan rayu cumbuan kepedihanku yg membebaniku
Lembut jemarimu genggam tanganku membiuskan sukma kebencian
Pelukmu berikan hangat panaskan ketentraman damai
Jalan bersamamu sebarkan iri dihati yg kau bungai tebaran pesona kemunafikan
Aku disampingmu tapi kau disampingnya...I hate u!
Kau putuskanku tp aku tak boleh jauh darimu!
inikah balasan ketulusan dgn segala penderitaan?
setan berkerudung sebarkan derita dgn kelembutan

Transisi Gelisah

kurengkuh bayang ilusi
yang semakin suram terbit di fajar
tanpa tetesan embun kesucian
Kabut gelap teman masa silam
membayang menjelma bagai bintang cemerlang
mengajakku terbang
Terbuaiku sejenak timbulkan perang batin dialam hayalan
kegelapan masa silam dan bayangan tauladan kanjeng sunan
Lepas bebasku dlm gelap
tanpa senandung pilu
tenggelam di hitam kematian
tanpa tau siapa aku
Perang ideologi menangkan ajaran sang wali
dan masa silam slalu ku sesali dan tak ku ulangi

Segara Rasa Rasaning Raga

Larut dalam buaimu
tenggelamkan duka nestapaku
bersama pelukan semu
kasih penuh nafsu
Mencoba rasa tuahkan sesal
 dalam genggaman kenikmatan puncak dosa
Tawa lirihmu
saat merengkuh kenikmatan dalam cucuran keringat
berganti tangis sesal birahi tak terampuni
Mahkota bunga terenggut tanpa harum
berlumur darah yg tiada arti
penuh dosa tak terampuni
Resiko sudah pasti
tinggal dosa yg di jalani
semoga dosa terampuni atas hilaf diri