Sunday, April 29, 2012

Kehidupan Masa SMA Fla


 By Intan Alissades
‘Masa SMA adalah masa-masa paling indah’

Begitu kata orang-orang. Mungkin orangtua atau guru kita menganggap sekolah itu rutinitas biasa. Tapi jauh di luar itu, banyak sekali hal menyenangkan dan gak menyenangkan yang dirasain setiap siswa. Ada rahasia, tentunya yang gak diketahui orangtua ataupun guru kita. Ada persahabatan, permusuhan, persaingan, cinta, gosip, canda tawa, haru tangis. Bisa rasain malasnya berangkat sekolah pagi-pagi, senangnya ketemu temen-temen, dibentak guru, tersiksanya saat ujian, dag dig dug der-nya penerimaan raport, senangnya dapat nilai 100, sampai hati berbunga saat disapa cowok idola kita. Manis asem asin, rame rasanya.



Itu yang gue rasain selama gue sekolah di SMA 13 ini. Sekarang gue duduk di kelas 12 IPS 1. Ya gak cuma duduk sih, kadang berdiri, kadang jongkok. Gue termasuk anak pas-pasan dalam pelajaran. Gak pinter, juga gak bego-bego amat. Terbukti dengan peringkat gue di kelas, peringkat 39 dari 40 siswa. Syukur, masih ada yang lebih bego dari gue.

Oh ya, nama gue ‘Flanata Tinia’. Temen-temen panggil gue ‘Fla’. Sekedar gambaran fisik sih, gue cantik dan itu Emak gue yang bilang. Gue gak tinggi, juga gak pendek. Kulit gue gak putih, juga gak hitam. Rambut gue gak panjang, juga gak pendek. Serba pas-pasan deh.



"Woi maju woi, keburu telat nih" Radit teriak sembari mengklakson motornya. Suasana yang gue alamin setiap pagi. Antri masukin motor ke parkiran yang super duper ramainya.



"Berisik" gue teriakin balik.



"Bersisik? Lo kira gue uler?” Radit adalah teman sekelas gue yang telinganya perlu diperiksakan ke dokter THT.



"Bisa gak sih parkirin motor?" ejek Pak Satpam. Tiap pagi gue jadi mangsa ejekan Pak Satpam. Maklum, gue aja parkir belum lurus.



Gue lari secepat yang gue bisa. Tentunya amat sangat cepat banget sekali very very. Oke, agak lebay ya.

Seharusnya tadi gue makan biskuat dulu biar lari secepat harimau, sayangnya gue malah keliru makan oreonya Afika.



Sampai di kelas, ternyata udah ada Mr. Deno, guru bahasa Inggris yang terkenal.... galak.



"Morning, Sir. I'm so sorry, i'm late." gue sok manis.



"Who are you? Whoever late in my class is not my student. Go out !"



Yah beginilah keseharian gue. Jadi mangsa ejekan Pak Satpam, langganan terlambat dan disemprot guru pagi-pagi.



"What a pity I am" gue galau.



"Pagi, cantik !" suara Lita ngagetin gue. Lita adalah teman sekelas gue waktu kelas 1, tapi penjurusan sekolah memisahkan kita. Dia di IPA dan gue di IPS.



"Makasih atas penghinaannya. Mau olahraga ya? Viko mana?" balas gue.



"Ciee, pagi-pagi nanyain sang idola. Noh udah di lapangan basket. Napa lo? Telat ya? Ga boleh masuk sama guru?"



"Kok tau?"



"Karena kau telah menelatkan hatiku"



"..."



Gue jalan ke lapangan. Pengen lihat sang pangeran main basket.



"Sumpah, ganteng banget Viko." batin gue. Khayalan gue melesat ke angkasa. Aku ingin terbang dan menari, jauh tinggi ke tempat kau berada.



Dengan backsound lagu Bintang Kecil, tiba-tiba muncul adegan flashback hitam putih di otak gue.



Dulu waktu pertama masuk SMA ini, gue bener-bener sendiri, gak ada temen SMP atau temen sepermainan yang sekolah disini. Sampai akhirnya di kantin, gue ketemu Viko. Gue gak sengaja numpahin kuah nasi goreng ke bajunya. Ini nasi goreng modern, jadi ada kuahnya. Aih, udah kayak sinetron aja.



"Woi, panas !" dia marah.



"..." gue bengong liatin dia. Ya, dia ganteng banget. Dude Herlino aja lewat. Lewat depan rumah gue waktu itu.



"Hello? Punya mata gak sih?" dia melambaikan tangan tepat di muka gue. Mungkin dia pikir ini acara uji nyali.



"Mata? Punya gak ya? Kasih tau gak ya?" gue jawab sekenanya. Gue lirik bet seragamnya, ‘Viko Herlambang’. Sekarang gue tahu nama pangeran ganteng ini.



"What? Are you mad?"



"I'm Flanata Tinia. And you can call me.... beib" gue mulai gila dan Viko meninggalkan gue.



Yah, sungguh pertemuan pertama yang romantis.



Tiba-tiba khayalan gue runtuh satu-persatu karena dari ruang guru terdengar orang manggil-manggil nama gue.



"Flanata. Sini kamu !" suara Bu Bekti berdendang merdu di telinga, menandakan akan ada kejadian mahadasyat.



"O ow, mampus !" gue hampir pingsan.



"Flanata, dengar gak perkataan Ibu? Kemari !"



"Demi masa sesungguhnya manusia kerugian, ngapain Bu Bekti manggil gue." gue jalan menghindar, pura-pura insomnia, eh anemia, apalah itu gue bukan anak IPA. Tiba-tiba telinga gue dijewer.



"Hayo, mau kemana kamu?" Bu Bekti melotot.



"Ah, sa..sa..sakit bu." gue meringis kesakitan.



"Ibu perhatiin daritadi kamu disini."



"Oh itu. Anu bu anu, anunya ibu anu. Hehe. Anu bu."



"..." bu Bekti tambah melotot.



"Saya cuma lihat anak IPA 1 main basket."



"Itu kan 2 jam yang lalu. Kayak kurang kerjaan aja daritadi berdiri disini."



Gue baru tahu, ternyata adegan flash back memakan waktu lama. Dan gue gak menyadari itu.



"Oh, saya lagi mau ngerasain jadi patung pancoran. Hehehe" gue cengengesan dengan garingnya.



"Sana masuk kelas ! Habis ini pelajaran ibu, ulangan !"



"Loh? Kok ulangan bu?"



"Kan sudah ibu kasih tahu minggu kemarin. Hari ini ulangan semua bab."



"O ow, mampus !" batin gue. Ulangan Matematika dan itu semua bab. Gue lupa karena gak inget. Bu Bekti balik badan mau pergi.



"Bu, tunggu ! Ulangannya ditunda minggu depan aja ya?"



"Gak bisa."



"Ibu baik deh."



"Modus. Ibu gak akan kerayu sama kamu !"



"Bu Bekti kurusan loh. Jadi terlihat lebih cantik." Apa kata dunia seorang Bu Bekti yang kayak sumo itu dibilang kurus. Yah, terkadang bohong itu diperlukan juga.



"Serius kurusan?"



"Serius dong."



"Oke, ulangan ditunda minggu depan."



"Aseeek !" hati gue menari-nari. Hati memang organ tubuh yang keren. Bisa menari-nari, bisa sakit, bisa menangis.



*****



"Jadi, saat Belanda menduduki wilayah Indonesia...."



"Wah, sakit dong bu didudukin" Aldi nyeletuk. Aldi adalah salah satu makhluk yang menghuni kelas 12 IPS 1. Sepertinya kadar kewarasan gue menurun sejak duduk sebangku sama dia.



"Siapa yang bawa nasi uduk?" Radit tiba-tiba nyambung. Dan pastinya salah sambung. Mungkin dia lemah dalam hal mengingat nomor telepon.



Seisi kelas ketawa. Bel jam pulang sekolah pun juga ikut ketawa.



*****



"Hei, Fla ! Pulang bareng yuk !" Seperti biasa, Tora anak kelas 12 IPS 3 ngajak pulang bareng. Dia teman deket gue, teman curhat masalah apapun."



"Hei ! Oke mamen !"



"Laper nih, jajan dulu ye di depan?"



"Iya, gue dibayarin kan?"



"Ape lu kate?" logat betawi si Tora memang kental. Bikin telinga gue mules.



"Kate? Gue manusia kali."



"Iye tenang aje, gue bayarin tapi pake duit lo yak?"



"..."



"Gimana perkembangan hubungan lo sama pangeran lo itu?"



"Stuck di tempat."



"Bukannya lo udah dapet nomor handphone-nya?



"Iya sih. Pernah gue telepon kok."



"Bilang apa aja lo?"



"Gak bilang apa-apa, soalnya pas dia angkat, langsung gue matiin."



"..."



Sejak pertemuan romantis gue di kantin sama Viko. Gue rasa gue jatuh cinta pada pandangan pertama awal aku berjumpa, seolah-olah hanya impian yg berlalu. Sungguh tak kusangka dan rasa tak percaya. Cowok setampan diaaaah datang menghampiriku.



Entah mimpi gue bakal jadi kenyataan atau gak. Pintar, ganteng, anak basket. Hah, bikin gue tambah down.



(to be continued)

2 Comments:

Terimakasih telah berkunjung kawan.
Jika tidak keberatan silahkan tinggalkan komentar di bawah ini